Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Eliminasi Bukan Solusi, Pemkab Lotim Dorong Sterilisasi Anjing Liar
Wakil Bupati Lotim, Edwin Hadiwijaya saat membuka workshop kegiatan sterilisasi dn vaksin anjing liar (IDN Times/Ruhaili)
  • Pemerintah Lombok Timur memilih sterilisasi anjing liar sebagai solusi pengendalian populasi, menolak metode eliminasi demi menjaga kesejahteraan hewan dan citra daerah wisata.
  • Workshop sterilisasi dan vaksinasi digelar dengan melibatkan NGO asal Jerman untuk mencari opsi kolaboratif, sekaligus mengajak masyarakat memilah sampah guna menekan jumlah anjing liar.
  • Dinas Peternakan mencatat lebih dari 170 kasus gigitan anjing liar pada 2025 dan 70 kasus di awal 2026, namun Lombok Timur masih berstatus bebas rabies.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lombok Timur, IDN Times – Maraknya kasus gigitan anjing liar dalam beberapa bulan terakhir mendorong Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mengambil langkah serius. Salah satu upaya yang ditempuh adalah sterilisasi anjing liar sebagai solusi pengendalian populasi.

Melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, langkah tersebut mulai direalisasikan. Pemkab Lombok Timur pun menggelar workshop sterilisasi dan vaksinasi anjing liar sebagai bagian dari upaya pencegahan kasus serupa.

1. Eliminasi bukan langkah yang tepat

ilustrasi anjing liar (pexels.com/Kalpesh Patel)

Wakil Bupati Lombok Timur, Edwin Hadiwijaya, menegaskan bahwa eliminasi bukanlah langkah yang tepat. Ia mengatakan, saat ini kesejahteraan hewan sudah menjadi perhatian masyarakat luas.

"Untuk mengatasi itu, eliminasi bukan jalan yang recommend (direkomendasikan). Paling efektif adalah sterilisasi. Tapi sterilisasi ini tidak bisa sporadis dan harus berkelanjutan,” Kamis (30/4/26).

Menurut Edwin, Lombok sebagai destinasi wisata akan mendapat sorotan dari pemerhati hewan jika mengambil langkah eliminasi seperti yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Sterilisasi dinilai lebih efektif, meski membutuhkan tenaga serta biaya yang tidak sedikit. Apalagi Lombok Timur hingga kini belum memiliki data pasti populasi anjing liar.

"Strelisasi lebih efektif, meskipun membutuhkan tenaga serta biaya yang tidak sedikit," tegas Edwin.

2. Libatkan NGO

ilustrasi anjing liar (pexels.com/Lucas Pezeta)

Workshop yang berlangsung di Aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan ini turut dihadiri oleh salah satu NGO dari Jerman. Edwin berharap kehadiran NGO tersebut dapat memberikan opsi alternatif yang bisa dilaksanakan, mengingat keterbatasan fiskal daerah.

“Sehingga kita nanti diskusi itu punya opsi-opsi mana yang riil bisa kita laksanakan; mana yang bisa dibantu oleh NGO, mana yang bisa kita kerjakan sendiri,” harapnya.

Selain sterilisasi, Edwin juga menyoroti masalah timbunan sampah yang menjadi sumber makanan anjing liar. Ia mengajak masyarakat mulai memilah sampah dari rumah agar tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menekan jumlah anjing liar yang berkeliaran di sekitar pemukiman.

3. Puluhan kasus gigitan anjing liar terjadi dalam 4 bulan

ilustrasi anjing liar (pexels.com/Milos Jevtic)

Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mencatat, sepanjang tahun 2025 terdapat lebih dari 170 kasus gigitan anjing liar di seluruh wilayah Lombok Timur. Sementara hingga belum satu semester di tahun 2026, sudah tercatat 70 kasus. Untungnya, Lombok Timur masih berstatus bebas rabies, dan status ini harus dipertahankan.

"Kasus gigitan anjing di Lombok Timur cukup tinggi, beruntung kita bebas penyakit rabies," pungkas, Kabid Kesehatan Hewan, Hulutatang.

Editorial Team