Smelter AMMAN di Sumbawa Barat, NTB. (dok. Pemprov NTB)
Plh Kepala KPPBC Mataram Pulung Raharjo menyebutkan hingga triwulan I 2026, capaian penerimaan kepabeanan dan cukai menunjukkan performa yang sangat positif. Total realisasi pendapatan telah mencapai Rp789,05 miliar, atau setara dengan 81,39 persen dari target yang telah ditetapkan.
Dia merincikan, penerimaan dari bea keluar menjadi kontributor terbesar dengan realisasi sebesar Rp774,64 miliar atau 87,39 persen dari target. Lonjakan signifikan ini dipicu oleh kebijakan relaksasi ekspor konsentrat tembaga kepada PT AMNT yang berlaku hingga 30 April 2026.
Kemudian penerimaan negara dari bea masuk mencatatkan realisasi sebesar Rp9,51 miliar atau 85 persen dari target. Capaian ini didorong secara konsisten oleh tingginya aktivitas importasi suku cadang (spare part) untuk kebutuhan operasional pertambangan di Provinsi NTB.
Sedangkan penerimaan negara dari cukai memberikan kontribusi sebesar Rp4,89 miliar atau 20,26 persen dari target. Meskipun persentasenya masih dalam tahap awal, tren ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan membaiknya kinerja penerimaan cukai Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Aglomerasi Pabrik Hasil Tembakau (APHT).
Sebelumnya, BPS merilis ekonomi NTB tumbuh tinggi pada triwulan I 2026. Ekonomi NTB pada triwulan I 2026 tumbuh 13,64 persen year on year (y-on-y). Kepala BPS NTB Wahyudin menyebut pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I 2026 merupakan tertinggi kedua di Indonesia setelah Maluku Utara.
Wahyudin mengungkapkan penyebab peningkatan ekonomi NTB pada triwulan I 2026. Peningkatan yang cukup tinggi itu didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi pada seluruh lapangan usaha. Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh kinerja lapangan usaha Industri pengolahan yang tumbuh signifikan sebesar 60,25 persen (y-on-y), seiring meningkatnya aktivitas smelter milik PT Amman Mineral di Kabupaten Sumbawa Barat.
Peningkatan produksi hasil smelter mendorong kenaikan nilai tambah industri, sehingga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB pada Triwulan I-2026. Lapangan usaha pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan yang tinggi, yaitu sebesar 31,80 persen (y-on-y) disebabkan adanya peningkatan produksi hasil pertambangan konsentrat. Selain itu, lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi turut mendorong pertumbuhan ekonomi NTB yaitu tumbuh sebesar 13,48 persen disebabkan karena peningkatan output Bank Umum.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tinggi pada Triwulan I-2026 ini terutama didorong oleh kinerja ekspor barang dan jasa yang mencatat pertumbuhan sangat tinggi sebesar 91,87 persen (y-on-y). Hal ini sebabkan oleh peningkatan nilai ekspor komoditas pertambangan dan hasil industri pengolahan, khususnya dari aktivitas smelter, yang sebelumnya pada periode yang sama tahun 2025 aktivitas smelter masih belum menghasilkan komoditas ekspor.