Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ekspor Konsentrat AMNT Berakhir, Ekonomi NTB Kehilangan Penopang Utama
Tambang tembaga milik PT AMNT di Kabupaten Sumbawa Barat. (dok. AMNT)

Mataram, IDN Times - Penerimaan negara dan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) diprediksi bakal kena imbas akibat berakhirnya izin ekspor konsentrat tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) pada 30 April 2026. Penerimaan negara dari bea keluar, tidak ada lagi mulai 1 Mei 2026.

Pada triwulan I 2026, penerimaan negara dari bea keluar ekspor konsentrat tembaga AMNT mencapai Rp774,64 Miliar atau 87,39 persen dari target. Lonjakan signifikan ini dipicu oleh kebijakan relaksasi ekspor konsentrat tembaga kepada PT AMNT yang berlaku hingga 30 April 2026.

"Izin ekspor konsentrat tembaga kemarin berakhir pada 30 April, sehingga mulai 1 Mei sudah tidak ada kegiatan ekspor konsentrat lagi," kata Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Sumbawa Sugeng Hariyanto, Rabu (13/5/2026).

1. Berdampak pada penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi NTB

Ilustrasi ekspor

Dia menyebut ada dua dampak akibat tidak adanya lagi ekspor konsentrat tembaga PT AMNT. Pertama, dari sisi penerimaan negara, mulai bulan Mei 2026, tidak ada lagi penerimaan dari bea keluar. Kedua, dengan tidak adanya penerimaan negara, maka akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan berikutnya.

"Karena selama ini ekspor inilah yang menjadi salah satu penopang utama dari pertumbuhan ekonomi NTB. Sehingga dengan berakhirnya relaksasi ekspor konsentrat tersebut, kemudian tidak ada penerimaan dari bea keluar, tentunya akan terjadi kondisi yang stuck dari sisi penerimaan," kata dia.

2. Belum ada ekspor emas produk smelter AMNT sejak Januari

Lokasi Smelter AMMAN di Sumbawa Barat. (Dok. AMMAN)

Sugeng menjelaskan sebenarnya ada potensi penerimaan dari bea keluar ekspor emas yang diproduksi PT AMNT di Sumbawa Barat. Hal itu sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 80 Tahun 2025. Dimana, telah ditargetkan penerimaan dari bea keluar ekspor emas sebesar Rp300 miliar.

Namun, sejak Januari hingga saat ini, PT AMNT belum melakukan kegiatan ekspor emas. Karena emas yang diproduksi dari smelter AMNT di Sumbawa Barat dijual ke pasar domestik.

"Jadi mulai Januari 2026 ini, emas produksi smelter PT AMNT itu dijual ke domestik, dalam hal ini adalah ke PT Antam, belum dilakukan kegiatan ekspor," terangnya.

Selain itu, ada juga produk smelter AMNT berupa copper cathode atau katoda tembaga, tetapi itu tidak terkena bea keluar. Dia menambahkan pada triwulan I 2026, tetap ada kegiatan ekspor dari AMNT namun bukan produk emas.

"Tetap ada kegiatan ekspor walaupun jumlahnya untuk triwulan pertama ini relatif berkurang dibandingkan dengan tahun kemarin. Karena memang untuk smelter PT Aman Mineral saat ini sedang dalam kondisi shutdown, sedang dalam posisi perbaikan. Sehingga untuk kegiatan di smelter tersebut relatif berkurang," kata dia.

3. Penerimaan negara dari kepabeanan dan cukai pada triwulan I 2026

Smelter AMMAN di Sumbawa Barat, NTB. (dok. Pemprov NTB)

Plh Kepala KPPBC Mataram Pulung Raharjo menyebutkan hingga triwulan I 2026, capaian penerimaan kepabeanan dan cukai menunjukkan performa yang sangat positif. Total realisasi pendapatan telah mencapai Rp789,05 miliar, atau setara dengan 81,39 persen dari target yang telah ditetapkan.

Dia merincikan, penerimaan dari bea keluar menjadi kontributor terbesar dengan realisasi sebesar Rp774,64 miliar atau 87,39 persen dari target. Lonjakan signifikan ini dipicu oleh kebijakan relaksasi ekspor konsentrat tembaga kepada PT AMNT yang berlaku hingga 30 April 2026.

Kemudian penerimaan negara dari bea masuk mencatatkan realisasi sebesar Rp9,51 miliar atau 85 persen dari target. Capaian ini didorong secara konsisten oleh tingginya aktivitas importasi suku cadang (spare part) untuk kebutuhan operasional pertambangan di Provinsi NTB.

Sedangkan penerimaan negara dari cukai memberikan kontribusi sebesar Rp4,89 miliar atau 20,26 persen dari target. Meskipun persentasenya masih dalam tahap awal, tren ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan membaiknya kinerja penerimaan cukai Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Aglomerasi Pabrik Hasil Tembakau (APHT).

Sebelumnya, BPS merilis ekonomi NTB tumbuh tinggi pada triwulan I 2026. Ekonomi NTB pada triwulan I 2026 tumbuh 13,64 persen year on year (y-on-y). Kepala BPS NTB Wahyudin menyebut pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I 2026 merupakan tertinggi kedua di Indonesia setelah Maluku Utara.

Wahyudin mengungkapkan penyebab peningkatan ekonomi NTB pada triwulan I 2026. Peningkatan yang cukup tinggi itu didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi pada seluruh lapangan usaha. Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh kinerja lapangan usaha Industri pengolahan yang tumbuh signifikan sebesar 60,25 persen (y-on-y), seiring meningkatnya aktivitas smelter milik PT Amman Mineral di Kabupaten Sumbawa Barat.

Peningkatan produksi hasil smelter mendorong kenaikan nilai tambah industri, sehingga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB pada Triwulan I-2026. Lapangan usaha pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan yang tinggi, yaitu sebesar 31,80 persen (y-on-y) disebabkan adanya peningkatan produksi hasil pertambangan konsentrat. Selain itu, lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi turut mendorong pertumbuhan ekonomi NTB yaitu tumbuh sebesar 13,48 persen disebabkan karena peningkatan output Bank Umum.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tinggi pada Triwulan I-2026 ini terutama didorong oleh kinerja ekspor barang dan jasa yang mencatat pertumbuhan sangat tinggi sebesar 91,87 persen (y-on-y). Hal ini sebabkan oleh peningkatan nilai ekspor komoditas pertambangan dan hasil industri pengolahan, khususnya dari aktivitas smelter, yang sebelumnya pada periode yang sama tahun 2025 aktivitas smelter masih belum menghasilkan komoditas ekspor.

Editorial Team