Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20251124-WA0068.jpg
Pimpinan DPRD Lotim, memimpin rapat paripurna (IDN Times/Ruhaili)

Intinya sih...

  • Desak ditangani serius: Yusri mendesak kasus bullying ditangani serius dan komprehensif, meminta OPD terkait turun ke lapangan untuk verifikasi.

  • Dukung lakukan investigasi: DPRD Lotim akan melakukan investigasi, memanggil pihak sekolah dan Dikbud Lotim untuk klarifikasi, serta menekankan peran guru dalam memperhatikan kondisi psikologis anak.

  • Fokus pulihkan korban dan perbaiki prilaku pelaku: Komisi II DPRD Lotim berencana menggelar rapat dengar pendapat bersama Dikbud Lotim untuk membahas kasus ini lebih lanjut dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap upaya pencegahan bullying di sekolah-sekolah di Lombok Timur.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lombok Timur, IDN Times – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Timur, Muhamad Yusri, menyatakan keprihatinan dan penyesalan mendalam atas adanya dugaan kasus perundungan (bullying) yang terjadi di salah satu Sekolah Dasar (SD) di wilayah tersebut. Yusri menegaskan bahwa lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi perkembangan anak.

“Kita sangat menyayangkan jika benar dugaan bullying ini terjadi. Sampai saat ini saya memang belum mendapatkan informasi yang benar-benar akurat, karena ada versi yang menyebutkan anak jatuh sendiri, dan ada juga yang mengatakan dipukul oleh temannya,” ujar Yusri saat dikonfirmasi pada Kamis (5/2/2026).

1. Desak ditangani serius

Petugas medis RSUD Selong menunjukkan hasil rontgen pada kaki korban (IDN Times/Ruhaili)

Menanggapi laporan tersebut, Yusri mendesak agar kasus ini ditangani secara serius dan komprehensif. Ia meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, terutama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), untuk segera turun ke lapangan melakukan verifikasi. Selain itu, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) juga diharapkan aktif memberikan pendampingan kepada korban dan keluarga.

“Ini harus menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depan. Semua pihak harus lebih preventif,” tegas Yusri.

2. Dukung lakukan investigasi

Ilustrasi bullying. IDN Times/Mia Amalia

Secara institusional, DPRD Lotim melalui Komisi II telah melakukan diskusi internal dan sepakat untuk melakukan investigasi. Komisi II berencana memanggil pihak sekolah, UPTD Kecamatan, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim untuk dimintai klarifikasi.

“Kita ingin menegaskan agar tidak ada sikap abai terhadap isu bullying ini. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga harus memperhatikan tumbuh kembang dan kondisi psikologis anak,” tambah Yusri.

Ia menekankan bahwa kualitas pendidikan juga diukur dari kesehatan mental dan karakter peserta didik.

3. Fokus pulihkan korban dan perbaiki prilaku pelaku

Ilustrasi bullying. pixabay.com/users/geralt-9301/

Pendapat senada disampaikan Anggota Komisi II DPRD Lotim sekaligus Ketua Fraksi Partai Prindo, Dr. Ust. Djamaluddin. Ia menyayangkan masih terjadinya kasus bullying, terutama di tingkat dasar. Ke depan, Komisi II DPRD Lotim berencana menggelar rapat dengar pendapat bersama Dikbud Lotim untuk membahas kasus ini lebih lanjut dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap upaya pencegahan bullying di sekolah-sekolah di Lombok Timur.

“Tujuan kita bukan hanya memulihkan korban, tetapi juga memperbaiki perilaku pelaku dengan pendekatan hukum restoratif, mengingat usianya yang masih anak-anak, serta menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik,” kata Djamaluddin.

Djamaluddin mengapresiasi langkah Dikbud Lotim yang telah menerbitkan surat edaran tentang peran guru piket sebagai bentuk pengawasan. Ia menilai kebijakan tersebut penting untuk meminimalkan potensi perundungan, yang dampaknya seringkali berupa trauma mental jangka panjang meski tidak selalu meninggalkan bekas fisik.

“Dengan pengawasan guru, keterlibatan sekolah, serta peran aktif orang tua dalam menanamkan nilai agama dan adab, kasus bullying bisa ditekan,” pungkasnya.

Editorial Team