Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp-Image-2025-07-26-at-07.16.33.jpeg
Sampah di Gili Trawangan. (dok. FMPL Gili Trawangan)

Mataram, IDN Times - Komisi VII DPR RI menyoroti tumpukan sampah di destinasi wisata prioritas Gili Trawangan, Lombok Utara dalam rapat kerja bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Rabu (21/1/2026). Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evi Nursanty menekankan persoalan sampah di destinasi wisata merupakan isu strategis yang harus menjadi perhatian.

"Saya baru kembali dari Lombok. Salah satu destinasi prioritas ke depan adalah Gili Tramena (Trawangan, Meno dan Air). Saya ke Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Masalah di Gili itu adalah sampah. Saya sampai pergi ke tempat penimbunan sampah itu. Saya bicara kepada kepala desa, kenapa ini," tanya Evi dalam Raker bersama Menteri Pariwisata yang ditayangkan YouTube TVR Parlemen dikutip IDN Times, Kamis (22/1/2026).

1. Menimbulkan image yang buruk bagi pariwisata

Kondisi sampah di Gili Trawangan. (dok. FMPL Gili Trawangan)

Evi mengungkapkan ada investor yang mau masuk mengelola sampah di Gili Tramena. Namun, dia mengaku heran akibat adanya aturan, investor tidak diberikan mengelola sampah di Gili Trawangan.

Untuk itu, dia meminta Menteri Pariwisata untuk menugaskan anak buahnya turun melihat tumpukan sampah di Gili Trawangan. "Itu benar-benar, sapi makan sampah sampai rusa pun di situ sudah makan sampah. Jadi ini image yang buruk bagi pariwisata kita," kata dia.

2. Pemerintah siapkan tiga alat pembakar sampah di Gili Tramena

Kepala Dispar NTB Ahmad Nur Aulia. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB Ahmad Nur Alia merespons sorotan Komisi VII DPR RI mengenai penumpukan sampah di Gili Trawangan. Dia mengatakan bahwa persoalan sampah di Gili Tramena menjadi atensi Pemprov NTB dan Pemda Lombok Utara.

Aulia menjelaskan pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan insinerator atau alat pakar sampah untuk kawasan Gili Tramena. "Ini dalam proses penempatan alat pembakar sampah yang dialokasikan melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan. Programnya masuk lewat Kementerian Kelautan dan Perikanan," kata Aulia dikonfirmasi IDN Times, Kamis (22/1/2026).

3. Jadi atensi provinsi dan kabupaten

Suasana di Gili Trawangan Lombok Utara. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dia menjelaskan bahwa penanganan sampah di destinasi favorit wisatawan mancanegara itu menjadi atensi Pemprov NTB dan Pemda Lombok Utara. Pemerintah daerah sudah menyusun langkah-langkah yang dilakukan untuk penanganan sampah di Gili Tramena.

"Alat pembakar sampah itu tidak hanya di Gili Trawangan saja tapi juga Gili Meno dan Gili Air. Sehingga sampah itu bisa dikelola di pulau itu sendiri," tambah Aulia.

Dia mengatakan persoalan sampah di Gili Trawangan akan berpengaruh terhadap wisatawan. Karena bicara pariwisata mengenai persepsi. Saat ini, wisatawan global mengharapkan pariwisata yang pro lingkungan dan keberlanjutan.

Sehingga, hal ini menjadi catatan pemerintah daerah untuk melakukan tata kelola persampahan di destinasi wisata. Dengan pengelolaan sampah yang baik diharapkan menguatkan daya tarik destinasi wisata.

"Pemetaan terkait kondisi destinasi wisata sudah menjadi catatan yang diatensi oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten Lombok Utara," tandasnya.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB mencatat produksi sampah di Gili Trawangan mencapai 17 ton hingga 18 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen adalah sampah organik, sisanya sampah non organik.

Editorial Team