Pemberian bantuan telur bagi keluarga yang anaknya menderita stunting di NTB. (dok. Pemprov NTB)
Mantan Direktur RSUD NTB ini menambahkan intervensi sensitif juga dilakukan dalam upaya penanganan stunting melalui Gerakan Bakti Stunting di seluruh kabupaten/kota.
Gerakan ini mengutamakan pemberian protein hewani berupa telur untuk keluarga yang memiliki anak balita stunting, wasting, dan ibu hamil KEK, serta ibu hamil anemia dengan melibatkan seluruh OPD di lingkup Pemprov NTB, Kabupaten/Kota dan mitra potensial.
Ada juga Gerakan Orang Tua Asuh, Gerakan Dapur Dahsyat bersama Kabupaten/Kota, dan pendampingan Keluarga Berisiko Stunting. Inovasi penanganan stunting juga dilakukan melalui integrasi dan kolaborasi di Kabupaten/Kota, pemanfaatan data by name by address pada e-PPGBM sebagai acuan pengawasan dan intervensi stunting.
Selain itu, pemenuhan standar alat ukur/antropometri di Posyandu Keluarga, dukungan dana desa untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) balita dan ibu hamil, serta insentif Kader Posyandu.
Kemudian dilakukan edukasi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di Posyandu Keluarga melalui gerakan zero waste, bank sampah, pencegahan pernikahan dini, skrining penyakit menular, tidak menular, dan pemberdayaan UMKM.
Adapun presentase stunting NTB berdasarkan hasil survei dari tahun ke tahun. Yaitu 33,49 persen pada tahun 2018 berdasarkan hasil Riskesdas, 31,4 persen pada tahun 2021 berdasarkan survei SSGI, 32,7 persen pada tahun 2022 berdasarkan survei SSGI, dan 24,6 persen pada tahun 2023 berdasarkan SKI.