Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan hilirisasi ayam terintegrasi di NTB menjadi langkah strategis untuk memutus ketergantungan hulu dan hilir yang selama ini dikuasai korporasi besar, sekaligus memperkuat kesiapan daerah dalam menyuplai kebutuhan MBG.
Dia menegaskan bahwa proyek ini merupakan embrio kemandirian ekonomi sektor peternakan di NTB. Iqbal menilai peternak lokal memiliki etos kerja yang kuat, namun kerap kalah bersaing akibat fluktuasi harga pakan dan bibit ayam yang dikendalikan oleh monopoli industri besar.
Iqbal menyebut sekitar 50 persen jagung sebagai bahan baku pakan nasional berasal dari NTB. Namun selama ini justru dikirim ke luar daerah dan kembali ke NTB dalam bentuk pakan dengan harga jauh lebih mahal.
“Persoalannya adalah hulu dan hilir yang tidak mampu kita kuasai. Mulai dari pakan hingga bibit ayam harus melewati beberapa tahap yang dikuasai monopoli besar. Dengan hadirnya industri ini, kita ingin 100 persen kebutuhan disediakan sendiri di sini,” ujarnya.
Untuk mendukung kemandirian pakan, Pemprov NTB melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) serta Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan tengah mengembangkan riset formula pakan berbasis potensi lokal. Beberapa alternatif yang disiapkan antara lain pemanfaatan tepung kelor sebagai superfood dan maggot hasil pengolahan sampah organik sebagai sumber protein, guna mengurangi ketergantungan pada bahan impor.
Pembangunan industri ini juga menjadi bagian dari strategi menjaga keseimbangan suplai dan permintaan akibat tingginya kebutuhan Program MBG. Saat ini, NTB telah memiliki 627 dapur MBG, melampaui target awal. Namun, tingginya permintaan dinilai berpotensi memicu inflasi jika tidak diimbangi ketersediaan pasokan.