Suasana Jemaah Ahmadiyah di Transrito Mataram (IDN Times/Ahmad Viqi)
Sedikitnya ada 20 anak di Transito kata Nurul. Mereka dibiasakan untuk hidup toleran berdampingan dengan umat Hindu dan Kristen selama berada di pengungsian.
Hal itu disebabkan lokasi pengungsian Transito di Kota Mataram dekat dengan komplek umat Hindu yang ada di Lingkungan Monjok Kelurahan Monjok Kota Mataram.
“Mereka tetap belajar. Kita tekankan anak-anak di Transito untuk rajin beribadah, ngaji,” katanya.
Dia juga berpesan kepada seluruh anak-anaknya yang masih tinggal di Transito untuk tetap menjalani ibadah salat tarawih selama bulan suci Ramadan.
“Jadi, setengah enam sore mereka sudah kumpul di musala. Bersih-bersih dan siap-siap untuk berbuka puasa,” tutur Nurul.
Dia juga mengatakan tidak pernah mengeluhkan apa yang dirasakan selama berada di Pengungsian. Memiliki suami seorang pemulung, Nurul juga tetap mendapat nafkah dari sang suami.
“Ramadan tahun ini sama saja. Intinya kami ingin memiliki kehidupan yang layak di Mataram,” tegas Nurul.