Ilustrasi pendaki di Gunung Rinjani. (IDN Times/Istimewa)
Dalam kesempatan revalidasi 2025 ini, General Manager Geopark Rinjani 2015-2020, Chairul Machsul ikut juga mendampingi asesor saat kunjungan ke Sembalun. Kebetulan asesor yang dari Jepang pernah menjadi peserta pertemuan Geopark se Asia Pasifik pada tahun 2019, dan saat itu Chairul Mahsul menjadi penanggungjawab kegiatan. Momen tersebut menjadi ajang diskusi dan sharing pengalaman pengeloaan Geopark di berbagai negara.
Dua orang asesor juga berbagi pengalaman Geopark di tempat lain, termasuk di negara mereka. Menurut Chairul Mahsul, semakin banyak tantangan dalam pengelolaan Geopark, termasuk di Rinjani. Dengan kolaborasi dengan berbagai pihak dia optimis, Geopark Rinjani bisa menjadi tempat belajar pengeloalan Geopark.
Selain dua asesor UNESCO ini, dalam revalidasi 2025 ini hadir juga perwakilan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Mereka mengikuti seluruh proses revalidasi, ingin memastikan seluruh kebutuhan dan proses revalidasi berjalan lancar.
Pada saat revalidasi 2025 ini, Geopark Caldera Toba juga hadir menjadi pengamat. Kebetulan tahun ini, Geopark Caldera Toba juga akan dilakukan penilaian ulang. Pada penilaian sebelumnya Toba mendapat kartu kuning. Karena itulah mereka ingin belajar dan melihat langsung proses di Geopark Rinjani.
“Ini menjadi bentuk kepercayaan teman-teman di pusat dan geopark di Indonesia kepada Geopark Rinjani,’’ kata Manajer Penelitian, Pengembangan dan Kerjasama Antarlembaga Geopark Rinjani, Meliawati.
Meliawati sendiri adalah salah satu manajer di Geopark Rinjani yang akan menjadi asesor ke Jepang. Dia lolos menjadi salah satu asesor untuk menilai Geopark yang berstatus UNESCO Global Geopark. Tugas pertama Meliawati menilai Geopark di Jepang.
“Setelah selesai penilaian di Geopark Rinjani, Insya Allah saya akan ke Jepang untuk menilai Geopark di sana,’’ kata perempuan geologis ini.