Kupang, IDN Times - Warga di wilayah Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih hidup dalam keterisolasian akibat buruknya akses jalan dan minimnya infrastruktur. Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan mendapatkan layanan kesehatan, distribusi bahan bakar minyak (BBM), hingga kebutuhan pokok sehari-hari.
Akibatnya berujung kejadian memilukan menimpa masyarakat, di antaranya tentang seorang ibu hamil yang meninggal dunia dalam perjalanan saat hendak melahirkan karena sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan.
Belum lama ini, media sosial juga dihebohkan dengan video warga yang menggotong peti jenazah secara estafet menyeberangi Kali Kapsali akibat jembatan penghubung di wilayah itu putus.
Situasi tersebut memicu aksi unjuk rasa mahasiswa asal Amfoang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Amfoang Bersatu di Kantor Gubernur NTT, Selasa (19/5/2026). Mereka mendesak pemerintah segera menyelesaikan persoalan infrastruktur di daerah perbatasan tersebut.
Perwakilan massa aksi, Sepryanus Bani, mengatakan masyarakat Amfoang hingga kini masih kesulitan mendapatkan listrik dan BBM, terutama saat pasokan BBM langka.
“Amfoang masih gelap gulita karena tidak ada listrik dan BBM untuk genset saat BBM langka,” ujarnya saat audiensi di Kantor Gubernur NTT.
