Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Tanda Anak Kekurangan Validasi Emosi dari Orangtua
Seorang anak sedang kesal ke ibunya yang selalu sibuk. (pexels.com/RDNE Stock project)

  • Anak sulit mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, kesulitan mengembangkan kosakata emosi.

  • Anak terbiasa menyembunyikan kesedihan atau kekecewaan, merasa tidak diterima apa adanya.

  • Anak mudah merasa bersalah atas perasaannya sendiri, sulit membangun identitas diri yang sehat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Validasi emosi adalah kemampuan orang tua untuk mengenali, menerima, dan merespons perasaan anak tanpa meremehkan atau menghakimi. Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa kalimat seperti “jangan berlebihan”, “itu sepele”, atau “kamu harusnya kuat” dapat membuat anak merasa emosinya tidak penting. Ketika emosi anak tidak divalidasi, ia belajar memendam perasaan daripada memahaminya.

Dalam psikologi perkembangan, kurangnya validasi emosi dapat berdampak pada cara anak mengelola stres, membangun hubungan, dan memandang dirinya sendiri. Anak mungkin tampak baik-baik saja di luar, tetapi menyimpan kebingungan dan luka emosional di dalam.

Berikut 7 tanda yang sering muncul pada anak yang tumbuh tanpa validasi emosi yang cukup dari orang tua.

1. Anak sulit mengungkapkan perasaan dengan kata-kata

Anak-anak sedang memainkan smartphone. (pexels.com/Jessica Lewis)

Anak sering kebingungan saat ditanya apa yang ia rasakan. Ia mungkin menjawab singkat, diam, atau mengalihkan pembicaraan karena tidak terbiasa membicarakan emosi.

Psikolog John Gottman menjelaskan bahwa anak yang emosinya tidak divalidasi akan kesulitan mengembangkan kosakata emosi. Tanpa bimbingan, anak tidak belajar mengenali dan menamai perasaannya sendiri.

2. Anak terbiasa menyembunyikan kesedihan atau kekecewaan

Seorang anak sedang kesal ke ibunya yang selalu sibuk. (pexels.com/RDNE Stock project)

Alih-alih menangis atau meminta dukungan, anak memilih menahan perasaan. Ia belajar bahwa menunjukkan emosi hanya akan membuatnya disalahkan atau dianggap lemah.

Menurut psikolog humanistik Carl Rogers, penolakan terhadap emosi anak dapat membuat mereka merasa tidak diterima apa adanya. Anak akhirnya membangun “topeng” untuk melindungi diri secara emosional.

3. Anak mudah merasa bersalah atas perasaannya sendiri

Seorang anak kecil sedang bermain bersama orang tuanya. (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Anak sering merasa bersalah hanya karena merasa marah, sedih, atau kecewa. Ia menganggap emosinya sebagai sesuatu yang salah dan harus ditekan.

Psikolog perkembangan Erik Erikson menekankan bahwa penerimaan emosi membantu anak membangun identitas diri yang sehat. Tanpa validasi, anak berisiko tumbuh dengan rasa bersalah dan rendah diri.

4. Anak menjadi sangat sensitif terhadap kritik

Ilustrasi Akibat Memanjakan Anak, Memiliki Perilaku Negatif di Sekolah. (pexels.com/August de Richelieu)

Anak yang kurang validasi emosi sering bereaksi berlebihan terhadap kritik kecil. Hal ini terjadi karena harga diri anak belum terbentuk secara stabil.

Psikolog Alfred Adler menjelaskan bahwa anak yang tidak merasa diterima secara emosional akan terus mencari pengakuan dari luar. Kritik kecil terasa seperti ancaman besar bagi nilai dirinya.

5. Anak sulit meminta bantuan saat mengalami masalah

Orang tua sedang memasak di dapur sambil bermain dengan anak-anaknya. (pexels.com/Elina Fairytale)

Ketika menghadapi kesulitan, anak lebih memilih diam daripada bercerita. Ia belajar bahwa mengungkapkan perasaan tidak akan menghasilkan dukungan.

Menurut John Bowlby, pencetus teori attachment, anak membutuhkan figur aman secara emosional. Tanpa itu, anak mengembangkan pola keterikatan yang tidak aman dan cenderung menarik diri.

6. Anak menjadi terlalu keras pada diri sendiri

Seorang ayah sedang menemani putrinya bermain. (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Anak sering menyalahkan diri, menuntut kesempurnaan, dan sulit memaafkan kesalahan sendiri. Ini adalah bentuk internalisasi dari kurangnya empati yang ia terima.

Psikolog Kristin Neff, peneliti self-compassion, menyatakan bahwa anak belajar bersikap lembut pada diri sendiri dari cara orang tua merespons emosi mereka.

7. Anak kesulitan membangun hubungan emosional yang dekat

Seorang ayah sedang mengendong anaknya yang menangis. (pexels.com/Phil Nguyen)

Dalam pertemanan atau hubungan keluarga, anak tampak menjaga jarak secara emosional. Ia sulit percaya bahwa perasaannya akan diterima.

Psikolog keluarga Virginia Satir menegaskan bahwa validasi emosi adalah dasar kelekatan emosional. Tanpanya, anak tumbuh dengan rasa kesepian meski dikelilingi orang lain.

Anak yang kekurangan validasi emosi bukanlah anak yang lemah, melainkan anak yang belum mendapatkan ruang aman untuk memahami perasaannya. Dengan mulai mendengar tanpa menghakimi, menerima tanpa meremehkan, dan menemani emosi anak dengan empati, orang tua membantu anak membangun kesehatan mental yang kuat. Validasi emosi bukan memanjakan, tetapi menguatkan.

Itulah 7 tanda yang sering muncul pada anak yang tumbuh tanpa validasi emosi yang cukup dari orang tua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team