Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang perempuan sedang membaca buku.
Ilustrasi Kutipan Terbaik Haruki Murakami tentang Keindahan Kehidupan. (pexels.com/George Milton)

Intinya sih...

  • Buku Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl membawa pembaca menyelami pengalaman manusia dalam kondisi paling gelap sekalipun.

  • The Midnight Library karya Matt Haig menggambarkan kegelisahan, penyesalan, dan kelelahan mental dengan sangat manusiawi.

  • Milk and Honey karya Rupi Kaur berbicara tentang luka, cinta, kehilangan, dan penyembuhan dengan bahasa yang sederhana.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa sendirian, bahkan saat berada di tengah banyak orang. Perasaan ini sering muncul tanpa suara, tanpa alasan yang jelas, dan sulit dijelaskan kepada siapa pun. Kesepian tidak selalu berarti tidak punya teman, melainkan merasa tidak benar-benar dipahami oleh sekitar.

Di saat seperti itu, buku sering menjadi tempat pulang yang sunyi namun hangat. Lewat cerita, pengalaman, dan kata-kata yang jujur, kita menyadari bahwa apa yang kita rasakan juga pernah dirasakan orang lain. Buku-buku tertentu mampu memeluk pembacanya secara emosional, membuat kita berhenti menyalahkan diri sendiri, dan perlahan berkata dalam hati, “ternyata aku tidak sendirian.”

Berikut 7 buku yang membuat kamu merasa “aku tidak sendiri”.

1. Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl

Ilustrasi buku yang harus kamu baca sebelum usia 30 tahun. (Pinterest/Shivani Choudhary)

Buku ini membawa pembaca menyelami pengalaman manusia dalam kondisi paling gelap sekalipun. Viktor Frankl menceritakan bagaimana ia bertahan hidup di kamp konsentrasi dengan menemukan makna di tengah penderitaan. Cerita ini membuat pembaca merasa bahwa rasa sakit dan kesepian bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari perjalanan manusia.

Bagi banyak orang, buku ini memberikan penghiburan yang dalam. Saat hidup terasa tidak adil dan melelahkan, pembaca diajak memahami bahwa perasaan hampa dan putus asa juga pernah dialami orang lain. Dari sana muncul rasa ditemani dan harapan bahwa hidup tetap bisa dijalani dengan makna.

2. The Midnight Library karya Matt Haig

Ilustrasi buku yang membuatmu jatuh cinta pada membaca lagi. (Pinterest/Instagram/Rachel Elinor Davies)

Novel ini bercerita tentang seseorang yang berada di antara hidup dan mati, menyesali banyak pilihan dalam hidupnya. Matt Haig menggambarkan kegelisahan, penyesalan, dan kelelahan mental dengan sangat manusiawi. Banyak pembaca merasa kisah ini mencerminkan pikiran mereka sendiri yang sering bertanya, “bagaimana jika hidupku berbeda?”

Buku ini membuat pembaca merasa dimengerti dalam rasa penyesalan dan kebingungan hidup. Ia tidak menghakimi, tetapi menemani proses berpikir yang rumit. Lewat cerita ini, kita diingatkan bahwa merasa tersesat adalah pengalaman yang sangat manusiawi.

3. Milk and Honey karya Rupi Kaur

Buku Milk and Honey karya Rupi Kaur. (eatmy.news)

Buku puisi ini berbicara tentang luka, cinta, kehilangan, dan penyembuhan dengan bahasa yang sederhana. Rupi Kaur menuliskan perasaan yang sering sulit diucapkan, namun terasa sangat akrab. Setiap halaman seolah berkata bahwa rasa sakit yang kita rasakan bukan hal yang aneh.

Banyak pembaca merasa buku ini seperti sahabat yang memahami emosi tanpa banyak penjelasan. Puisi-puisinya membantu kita menerima perasaan sendiri dengan lebih lembut. Dari sana muncul rasa tenang karena mengetahui bahwa luka emosional adalah pengalaman bersama, bukan beban pribadi.

4. The Perks of Being a Wallflower karya Stephen Chbosky

Buku The Perks of Being a Wallflower karya Stephen Chbosky. (whatshotblog.com)

Novel ini mengangkat kisah remaja yang merasa berbeda, canggung, dan terasing. Tokoh utama menjalani hidup dengan perasaan tidak sepenuhnya cocok dengan lingkungannya. Kisah ini sangat dekat dengan mereka yang sering merasa “tidak terlihat” atau sulit menyesuaikan diri.

Buku ini memberi rasa ditemani bagi pembaca yang sering merasa sendirian dalam keramaian. Melalui surat-surat yang ditulis tokoh utama, pembaca diajak memahami bahwa kesepian tidak selalu berarti kita rusak. Terkadang, kita hanya sedang belajar memahami diri sendiri.

5. Reasons to Stay Alive karya Matt Haig

Ilustrasi rekomendasi buku untuk kamu yang ingin mencintai hidup lagi. (Pinterest/Akers World)

Buku ini ditulis dari pengalaman pribadi penulis yang mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Matt Haig menuliskannya dengan jujur, sederhana, dan penuh empati. Ia tidak mencoba menggurui, melainkan berbagi kisah bertahan hidup.

Bagi pembaca yang sedang berada di titik rendah, buku ini terasa seperti pegangan. Kalimat-kalimatnya mengingatkan bahwa perasaan gelap bukanlah akhir dari segalanya. Mengetahui bahwa orang lain pernah berada di titik yang sama membantu kita merasa tidak sendirian dalam perjuangan ini.

6. Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom

Ilustrasi rekomendasi buku untuk kamu yang ingin mencintai hidup lagi. (Pinterest/Lifestyle)

Buku ini berisi percakapan antara seorang murid dan gurunya yang sedang menghadapi kematian. Dengan bahasa yang hangat, Mitch Albom membahas kehidupan, cinta, kehilangan, dan penerimaan. Setiap percakapan terasa seperti nasihat lembut yang menenangkan.

Buku ini membuat pembaca merasa ditemani dalam menghadapi kenyataan hidup yang berat. Ia mengingatkan bahwa ketakutan, kesedihan, dan rasa kehilangan adalah bagian dari pengalaman bersama. Membacanya seperti berbincang dengan seseorang yang memahami kehidupan secara mendalam.

7. Buku esai atau catatan reflektif

Seorang wanita sedang duduk di kursi sembari membaca buku. (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Buku esai reflektif sering kali terasa dekat karena menggunakan bahasa dan pengalaman yang akrab. Kisah-kisah tentang kegagalan, patah hati, dan pencarian makna hidup ditulis dengan jujur tanpa kepura-puraan. Hal ini membuat pembaca merasa lebih terhubung secara emosional.

Bagi banyak orang, buku jenis ini membantu mengurangi rasa asing terhadap diri sendiri. Kita merasa perasaan yang dialami bukan hal yang aneh atau berlebihan. Justru, membaca kisah orang lain membuat kita merasa diterima apa adanya.

Merasa tidak sendirian tidak selalu datang dari kehadiran orang lain secara fisik. Kadang, rasa itu hadir lewat halaman-halaman buku yang memahami isi hati kita tanpa bertanya apa pun. Buku-buku di atas bukan hanya bacaan, melainkan teman sunyi yang menemani di saat-saat paling rapuh. Karena dalam setiap cerita, kita belajar bahwa perasaan kita valid, manusiawi, dan tidak pernah benar-benar sendiri.

Itulah 7 rekomendasi buku yang membuat kamu merasa “aku tidak sendiri”.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team