Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Alasan Mengapa Ramadan Membuat Banyak Orang Lebih Tenang
Perempuan muslimah sedang memegang bunga. (pexels.com/Thirdman)

  • Ritme hidup melambat, mengurangi stres dan memberi ruang untuk beristirahat.

  • Latihan menahan diri memperkuat kontrol emosi dan menciptakan rasa aman batin.

  • Berkurangnya stimulus berlebihan membuat pikiran lebih jernih dan tenang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bulan Ramadan sering terasa berbeda dibanding bulan-bulan lainnya. Ada suasana yang lebih hening, ritme hidup yang melambat, dan emosi yang terasa lebih terkendali. Banyak orang, bahkan yang biasanya mudah cemas atau gelisah, mengakui bahwa selama Ramadan, batin mereka terasa lebih ringan dan damai, meskipun secara fisik tubuh sedang menahan lapar dan haus.

Ketenangan ini bukanlah sesuatu yang muncul secara ajaib, melainkan hasil dari kombinasi perubahan psikologis, spiritual, dan sosial yang terjadi secara bersamaan. Ramadan menghadirkan ruang jeda dari kebisingan hidup, memberi kesempatan bagi pikiran dan perasaan untuk bernafas lebih lega.

Berikut 7 alasan mengapa bulan Ramadan kerap membawa ketenangan bagi banyak orang.

1. Ritme hidup yang melambat

Seorang perempuan sedang melihat ke samping. (pexels.com/PNW Production)

Selama Ramadan, pola aktivitas harian berubah secara alami. Jam makan bergeser, jam tidur menyesuaikan, dan banyak kegiatan dilakukan dengan tempo yang lebih pelan. Perubahan ritme ini secara psikologis membantu sistem saraf keluar dari mode “tergesa-gesa” yang sering menjadi sumber stres dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika hidup tidak lagi dikejar oleh jadwal padat dan tuntutan berlebihan, pikiran mendapat ruang untuk beristirahat. Melambat bukan berarti menjadi malas, tetapi memberi kesempatan bagi tubuh dan jiwa untuk bergerak lebih sadar, sehingga ketegangan mental perlahan berkurang.

2. Latihan menahan diri yang menenangkan pikiran

Tiga orang perempuan sedang membuka Al-Quran. (pexels.com/Thirdman)

Puasa melatih seseorang untuk menunda keinginan, bukan hanya terhadap makanan dan minuman, tetapi juga terhadap emosi dan reaksi impulsif. Secara psikologis, kemampuan menahan diri ini memperkuat kontrol diri dan mengurangi ledakan emosi yang sering memicu kegelisahan.

Ketika seseorang mampu berkata “tidak” pada dorongan sesaat, ia belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Kesadaran ini menciptakan rasa aman batin, bahwa diri kita mampu mengendalikan hidup, bukan dikendalikan oleh dorongan emosional.

3. Berkurangnya stimulus berlebihan

Seorang wanita sedang duduk di kursi sembari membaca buku. (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Ramadan secara tidak langsung mengurangi banyak distraksi. Waktu makan berkurang, aktivitas hiburan menurun, dan fokus lebih diarahkan pada hal-hal yang esensial. Kondisi ini membuat otak tidak terus-menerus dibombardir oleh rangsangan, yang sering kali menjadi penyebab kelelahan mental.

Ketika stimulus berkurang, pikiran menjadi lebih jernih. Ketenangan muncul karena otak tidak lagi harus merespons terlalu banyak hal sekaligus. Inilah mengapa Ramadan sering terasa seperti “detoks” mental yang menenangkan.

4. Koneksi spiritual yang memberi rasa aman

Tiga orang perempuan muslim sedang berdoa di masjid. (pexels.com/Thirdman)

Bagi banyak orang, Ramadan adalah momen memperkuat hubungan spiritual. Aktivitas ibadah yang lebih rutin menciptakan rasa keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Dalam psikologi, perasaan terhubung ini memberikan efek menenangkan dan mengurangi rasa kesepian eksistensial.

Keyakinan bahwa ada makna di balik setiap ujian dan keterbatasan hidup membantu seseorang menghadapi kecemasan dengan lebih tenang. Ketika hati merasa ditemani, beban pikiran pun terasa lebih ringan.

5. Meningkatnya empati dan kepedulian sosial

Sekelompok perempuan berhijab sedang berfoto di pantai. (pexels.com/PNW Production)

Ramadan mendorong orang untuk lebih peka terhadap kondisi orang lain, terutama mereka yang kekurangan. Aktivitas berbagi, bersedekah, dan membantu sesama tidak hanya bermanfaat secara sosial, tetapi juga berdampak positif pada kesehatan mental.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa memberi dapat meningkatkan perasaan bahagia dan mengurangi stres. Saat fokus berpindah dari “apa yang kurang dalam hidupku” ke “apa yang bisa kuberikan”, pikiran menjadi lebih tenang dan bersyukur.

6. Ruang untuk refleksi diri

Perempuan muslimah sedang memegang bunga. (pexels.com/Thirdman)

Ramadan menyediakan ruang batin untuk merenung. Kesibukan yang berkurang dan suasana yang lebih hening membuat seseorang lebih mudah berdialog dengan dirinya sendiri. Proses refleksi ini membantu memahami emosi, luka batin, dan harapan yang selama ini terabaikan.

Dengan mengenali diri secara lebih jujur, seseorang tidak lagi terus-menerus berkonflik dengan pikirannya sendiri. Penerimaan diri inilah yang menjadi salah satu sumber ketenangan paling dalam selama Ramadan.

7. Harapan akan awal yang baru

Ilustrasi Karir Pekerjaan yang Cocok untuk Tipe Kepribadian Melankolis. (pexels.com/Kevin Malik)

Ramadan sering dipersepsikan sebagai momen penyucian dan pembaruan. Ada harapan bahwa diri bisa menjadi lebih baik setelah melewati bulan ini. Secara psikologis, harapan memberi energi positif dan rasa optimisme yang menenangkan hati.

Ketika seseorang percaya bahwa perubahan masih mungkin terjadi, kecemasan terhadap masa lalu dan ketakutan akan masa depan berkurang. Harapan menciptakan ketenangan karena hidup tidak lagi terasa buntu, melainkan penuh kemungkinan.

Ketenangan yang dirasakan banyak orang selama Ramadan bukanlah kebetulan. Ia lahir dari perpaduan ritme hidup yang melambat, latihan menahan diri, koneksi spiritual, kepedulian sosial, dan ruang refleksi yang jarang ditemukan di bulan lain. Ramadan mengajarkan bahwa ketenangan bukan berasal dari memiliki segalanya, melainkan dari kesediaan untuk berhenti sejenak, menata ulang diri, dan menjalani hidup dengan lebih sadar.

Itulah 7 alasan mengapa bulan Ramadan kerap membawa ketenangan bagi banyak orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team