Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wanita sedang main game.
Ilustrasi Alasan Mengapa Kalah Main Game Bisa Membuat Emosi Meledak. (pexels.com/RDNE Stock project)

Intinya sih...

  • Harga diri terikat pada kemenangan, membuat reaksi emosional berlebihan

  • Game memicu ledakan dopamin yang terputus mendadak, memicu rasa frustrasi yang kuat

  • Frustrasi akibat usaha yang terasa sia-sia, dan perasaan tidak berdaya dan kehilangan kontrol

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi banyak orang, bermain game bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada usaha, fokus, strategi, bahkan harapan untuk menang dan merasa berhasil. Karena itulah, kekalahan dalam game sering kali terasa lebih menyakitkan daripada yang terlihat. Emosi bisa tiba-tiba naik, amarah mudah tersulut, dan suasana hati langsung berubah drastis.

Secara psikologis, reaksi ini bukan muncul tanpa alasan. Otak dan emosi kita terlibat penuh saat bermain, apalagi ketika kemenangan dijadikan tolok ukur harga diri. Kalah bukan hanya berarti kehilangan poin atau peringkat, tetapi juga bisa memicu konflik batin yang lebih dalam.

Berikut 7 alasan psikologis mengapa kalah main game bisa membuat emosi meledak.

1. Harga diri terikat pada kemenangan

Ilustrasi Mitos tentang Skizofrenia yang Harus Diluruskan. (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ketika seseorang menilai dirinya dari performa bermain, kemenangan menjadi simbol keberhasilan diri. Saat kalah, yang terasa bukan hanya gagal dalam game, tetapi merasa “tidak cukup baik” sebagai pribadi. Inilah yang membuat reaksi emosional menjadi berlebihan.

Secara psikologis, kondisi ini disebut ego involvement. Identitas diri terlalu menyatu dengan hasil permainan. Semakin tinggi keterikatan ego, semakin besar pula luka emosional yang muncul saat mengalami kekalahan.

2. Ledakan dopamin yang terputus mendadak

Ilustrasi Alasan Mengapa Kalah Main Game Bisa Membuat Emosi Meledak. (pexels.com/RDNE Stock project)

Game dirancang untuk memberi rangsangan dopamin, yaitu zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang dan puas. Saat hampir menang lalu kalah, aliran dopamin yang diharapkan tiba-tiba terhenti, memicu rasa frustrasi yang kuat.

Otak yang sudah terbiasa dengan penghargaan instan akan bereaksi seperti sedang “kehilangan sesuatu”. Inilah alasan mengapa kekalahan bisa terasa tidak proporsional, bahkan memicu amarah yang sulit dikendalikan.

3. Frustrasi akibat usaha yang terasa sia-sia

Itulah 5 Cara Mengelola Waktu berdasarkan Prinsip Psikologi Kognitif. (pexels.com/Gustavo Fring)

Bermain game membutuhkan konsentrasi, waktu, dan energi. Ketika semua usaha itu berakhir dengan kekalahan, muncul perasaan bahwa jerih payah tidak dihargai. Frustrasi ini sering kali menumpuk, lalu meledak dalam bentuk emosi.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan frustration-aggression hypothesis, di mana kegagalan mencapai tujuan dapat memicu kemarahan. Semakin besar usaha yang dikeluarkan, semakin besar pula potensi emosinya.

4. Perasaan tidak berdaya dan kehilangan kontrol

Ilustrasi Tips Mengurangi Overthinking tanpa Menekan Perasaanmu. (pexels.com/Michael Obstoj)

Kekalahan, terutama yang terasa tidak adil, bisa memunculkan rasa tidak berdaya. Saat strategi sudah dilakukan tetapi hasil tetap buruk, otak menafsirkan situasi ini sebagai hilangnya kontrol.

Rasa tidak berdaya ini memicu stres emosional. Bagi sebagian orang, marah adalah cara tercepat untuk menutupi perasaan lemah atau kalah yang sulit diterima.

5. Tekanan sosial dan takut dinilai orang lain

Ilustrasi Alasan Mengapa Keinginan untuk Berubah di Awal Tahun sering Gagal. (pexels.com/Valeriia Miller)

Dalam game kompetitif, kekalahan sering disaksikan atau dinilai oleh orang lain, baik teman, tim, maupun komunitas online. Takut dianggap buruk, beban tim, atau tidak kompeten dapat memperbesar reaksi emosional.

Tekanan sosial ini membuat kekalahan terasa seperti ancaman terhadap penerimaan sosial. Emosi pun menjadi lebih intens karena yang dipertaruhkan bukan hanya skor, tetapi juga rasa diterima.

6. Kelelahan mental dan kurangnya regulasi emosi

Ilustrasi Manfaat Psychological Pause, Mindfulness, dan Evaluasi Diri di Akhir Tahun. (pexels.com/Yan Krukau)

Bermain terlalu lama tanpa istirahat membuat kemampuan mengelola emosi menurun. Otak menjadi lelah, kesabaran menipis, dan toleransi terhadap frustrasi semakin kecil.

Dalam kondisi ini, kekalahan kecil pun bisa memicu ledakan emosi besar. Bukan karena kekalahannya semata, tetapi karena sistem regulasi emosi sudah kelelahan.

7. Game menjadi satu-satunya sumber kepuasan diri

Ilustrasi Tanda kalau Bermain Game Mulai Menjadi Masalah Psikologis. (pexels.com/JESHOOTS.com)

Ketika kehidupan nyata terasa kosong atau penuh tekanan, game sering dijadikan satu-satunya sumber kebahagiaan. Akibatnya, kalah dalam game terasa seperti kehilangan satu-satunya hal yang membuat hidup terasa berarti.

Secara psikologis, ketergantungan emosional ini membuat reaksi terhadap kekalahan menjadi sangat intens. Emosi meledak bukan karena game itu sendiri, melainkan karena kebutuhan emosional yang terlalu besar diletakkan di dalamnya.

Kalah main game memang wajar, tetapi emosi yang meledak adalah sinyal bahwa ada proses psikologis yang sedang bekerja di balik layar. Memahami alasan-alasan ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk mengenali kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Saat game kembali ditempatkan sebagai hiburan, bukan penentu harga diri, emosi pun akan lebih mudah dikendalikan dan permainan kembali terasa sehat.

Itulah 7 alasan psikologis mengapa kalah main game bisa membuat emosi meledak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team