Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_20260122_184841_230.jpg
Rumah warga Lingkungan Bugis Kelurahan Bintaro Kecamatan Ampenan Kota Mataram yang rusak parah dihantam gelombang tinggi, Rabu malam (21/1/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Mataram, IDN Times - Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD NTB mencatat sebanyak 52 kejadian bencana hidrometeorologi menghantam Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dalam sebulan terakhir yaitu periode 1-31 Januari 2026. Kepala Pelaksana BPBD NTB Sadimin mengatakan bencana alam yang paling sering terjadi selama Januari 2026 adalah banjir sebanyak 26 kejadian.

Kemudian cuaca ekstrem 22 kejadian, tanah longsor 2 kejadian, dan gelombang pasang atau abrasi 2 kejadian. "Kejadian bencana selama kurun waktu 1 hingga 31 Januari 2026 mengakibatkan 2 orang meninggal, 9 luka-luka dan 44.058 Jiwa terdampak," sebut Sadimin.

1. Ratusan rumah warga rusak dan belasan ribu terendam

Rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Dompu. (dok. BPBD NTB)

Kabupaten Bima menjadi wilayah dengan jumlah bencana terbanyak yakni 12 kejadian. Disusul oleh Lombok Barat dengan 11 kejadian, dan Lombok Tengah dengan 9 kejadian.

Kemudian Dompu 7 kejadian, Sumbawa 4 kejadian, Kota Mataram dan Lombok Utara masing-masing 3 kejadian, Sumbawa Barat 2 kejadian, dan Lombok Timur satu kejadian. Sementara itu, Kota Bima menjadi satu-satunya wilayah yang melaporkan nol kejadian bencana pada Januari 2026.

Dia menyebut dampak puluhan bencana yang menerjang wilayah NTB selama Januari 2026, menyebabkan 428 rumah warga mengalami kerusakan. Terdiri dari 23 rumah rusak berat, 35 rumah rusak sedang dan 370 rumah rusak ringan. Sedangkan jumlah rumah warga yang terendam mencapai 12.944 rumah.

2. Tujuh jembatan rusak akibat bencana

Akses jalan putus akibat jembatan darurat yang rusak diterjang banjir. (dok. BPBD NTB )

Bencana juga merupakan infrastruktur publik dan fasilitas vital. BPBD NTB mencatat terdapat 24 bangunan sekolah terdampak dan 5 unit fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.

Selain itu, terdapat tujuh jembatan rusak, 130 meter jalan mengalami kerusakan, 14 titik jaringan listrik dan 700 meter jaringan air bersih juga mengalami kerusakan. Bencana alam di awal tahun 2026 ini juga menyebabkan lahan persawahan seluas 1.306 hektare terendam banjir.

​Selain sawah, sektor perikanan juga terdampak dengan 60 hektare tambak atau kolam yang mengalami kerusakan. Di sektor perdagangan, terdapat 16 unit pertokoan atau warung yang turut terdampak bencana.

3. Pemprov NTB alokasikan BTT Rp16 miliar

Atap rumah warga yang rusak diterjang angin kencang di Kabupaten Bima. (dok. BPBD NTB)

Pemprov NTB telah menetapkan status tanggap bencana hidrometeorologi pascasejumlah kabupaten/kota dihantam bencana banjir dan angin kencang sejak awal Januari lalu. Penetapan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi itu untuk mempercepat penanganan dampak banjir, longsor dan angin kencang di kabupaten/kota.

SK penetapan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi telah ditandatangani Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal pada 19 Januari 2026. Penetapan SK tanggap darurat bencana hidrometeorologi merupakan syarat pencairan Belanja Tidak Terduga (BTT) dari Pemprov NTB untuk membantu mempercepat penanganan dampak bencana hidrometeorologi di kabupaten/kota terdampak.

Dalam APBD 2026, Pemprov NTB mengalokasikan dana BTT sebesar Rp16 miliar. Anggaran sebesar itu disiapkan mengantisipasi bencana sepanjang 2026. Sehingga, Pemprov NTB akan menghitung skala prioritas untuk penggunaan dana BTT.

Editorial Team