Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Orang tua sedang memasak di dapur sambil bermain dengan anak-anaknya.
Orang tua sedang memasak di dapur sambil bermain dengan anak-anaknya. (pexels.com/Elina Fairytale)

Intinya sih...

  • Ketegasan tanpa penjelasan membuat anak patuh karena takut, bukan karena memahami nilai di balik aturan.

  • Komunikasi satu arah dan hukuman sebagai alat utama disiplin membuat anak menarik diri secara emosional.

  • Fokus pada kesalahan dan kekurangan anak serta pengaturan emosi dan pilihan yang berlebihan dapat menghambat perkembangan identitas anak.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang tua meyakini bahwa ketegasan adalah kunci keberhasilan dalam mendidik anak. Namun, tanpa disadari, ketegasan yang berlebihan dapat berubah menjadi pola asuh otoriter. Pola asuh ini sering muncul bukan karena niat buruk, melainkan karena keinginan orang tua untuk melindungi, mendisiplinkan, atau “membentuk” anak agar tidak salah jalan.

Dalam psikologi perkembangan, pola asuh otoriter ditandai oleh kontrol yang tinggi dan kehangatan emosional yang rendah. Anak dituntut patuh tanpa ruang dialog. Akibatnya, anak mungkin tampak “penurut” di luar, tetapi menyimpan tekanan emosional di dalam. Mengenali ciri-cirinya menjadi langkah awal agar orang tua bisa melakukan refleksi dan perubahan yang lebih sehat.

Berikut 5 ciri pola asuh otoriter yang sering tidak disadari.

1. Menuntut kepatuhan tanpa penjelasan

Ilustrasi Pola Didikan Orang Tua yang Membuat Anak Nakal di Sekolah. (pexels.com/MART PRODUCTION)

Salah satu ciri pola asuh otoriter adalah tuntutan patuh tanpa memberi alasan yang jelas. Kalimat seperti “pokoknya harus” atau “orang tua selalu benar” sering digunakan untuk menghentikan diskusi.

Psikolog perkembangan Diana Baumrind, yang mengklasifikasikan pola asuh, menjelaskan bahwa pendekatan ini membuat anak patuh karena takut, bukan karena memahami nilai di balik aturan. Dalam jangka panjang, anak bisa kesulitan berpikir mandiri dan mengambil keputusan.

2. Minim dialog dan tidak mendengarkan pendapat anak

Anak-anak sedang memainkan smartphone. (pexels.com/Jessica Lewis)

Dalam pola asuh otoriter, komunikasi cenderung satu arah. Orang tua berbicara, anak mendengar. Pendapat anak sering dianggap sebagai pembangkangan, bukan sebagai bentuk ekspresi diri.

Menurut psikolog Haim Ginott, komunikasi yang mengabaikan perasaan anak dapat membuat anak menarik diri secara emosional. Anak belajar bahwa berbicara jujur tidak aman, sehingga memilih diam atau menyembunyikan perasaannya.

3. Menggunakan hukuman sebagai alat utama disiplin

Ilustrasi Akibat Memanjakan Anak, Memiliki Perilaku Negatif di Sekolah. (pexels.com/August de Richelieu)

Orang tua otoriter sering mengandalkan hukuman, baik berupa hukuman verbal maupun nonverbal sebagai cara mendisiplinkan anak. Hukuman digunakan untuk mengontrol perilaku, bukan untuk membantu anak memahami kesalahan.

Psikolog Alfred Adler menyatakan bahwa hukuman keras justru melemahkan rasa tanggung jawab anak. Anak mungkin berhenti berperilaku salah, tetapi bukan karena mengerti, melainkan karena takut pada konsekuensi.

4. Kurang memberi apresiasi pada usaha anak

Seorang anak kecil sedang bermain bersama orang tuanya. (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Fokus pola asuh otoriter sering tertuju pada kesalahan dan kekurangan anak, sementara usaha dan proses jarang diapresiasi. Anak hanya diperhatikan ketika gagal, bukan ketika mencoba.

Psikolog Carol Dweck melalui konsep growth mindset menjelaskan bahwa anak membutuhkan pengakuan atas usaha agar tumbuh percaya diri. Tanpa apresiasi, anak cenderung takut gagal dan enggan mencoba hal baru.

5. Mengontrol emosi dan pilihan anak secara berlebihan

Seorang ayah sedang menemani putrinya bermain. (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Orang tua otoriter sering merasa perlu mengatur hampir semua aspek kehidupan anak, termasuk perasaan dan pilihan pribadi. Anak diajarkan untuk menekan emosi demi memenuhi harapan orang tua.

Menurut Erik Erikson, tekanan seperti ini dapat menghambat perkembangan identitas anak. Anak mungkin tumbuh dengan kebingungan identitas, rendah diri, atau kesulitan mengekspresikan emosi secara sehat.

Pola asuh otoriter sering kali tidak disadari karena dibungkus dengan niat baik dan alasan kedisiplinan. Namun, tanpa keseimbangan empati dan dialog, pendekatan ini dapat membatasi perkembangan emosional anak. Dengan mengenali ciri-cirinya, orang tua memiliki kesempatan untuk beralih menuju pola asuh yang lebih hangat, terbuka, dan mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.

Itulah 5 ciri pola asuh otoriter yang sering tidak disadari. Semoga artikel ini bermanfaat, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team