Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson.
Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson. (miro.medium.com)

Intinya sih...

  • The Gifts of Imperfection karya Brene Brown mengajak untuk berhenti mengejar citra sempurna dan hidup dengan keberanian serta kejujuran.

  • Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl menunjukkan bahwa hidup tetap memiliki makna, bahkan dalam kondisi paling tidak ideal.

  • The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson menantang gagasan bahwa kita harus selalu positif dan berhasil.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah tuntutan untuk selalu berhasil, produktif, dan terlihat baik-baik saja, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup harus berjalan sempurna. Kesalahan sering dianggap kegagalan, dan ketidakteraturan dipandang sebagai kelemahan. Padahal, standar kesempurnaan inilah yang sering membuat kita lelah secara emosional.

Buku dapat menjadi pengingat lembut bahwa hidup tidak pernah benar-benar rapi. Melalui kisah, refleksi, dan pengalaman nyata, beberapa buku mengajarkan bahwa ketidaksempurnaan justru membuat hidup terasa lebih manusiawi.

Berikut 5 buku yang membantu kamu melepaskan tuntutan sempurna dan belajar menerima hidup apa adanya.

1. The Gifts of Imperfection karya Brene Brown

Buku The Gifts of Imperfection karya Brene Brown. (brenebrown.com)

Buku ini mengajak pembaca untuk berhenti mengejar citra sempurna dan mulai hidup dengan keberanian serta kejujuran. Brené Brown menjelaskan bahwa rasa malu dan takut dinilai sering mendorong kita menyembunyikan ketidaksempurnaan. Padahal, di sanalah keaslian diri berada.

Melalui pendekatan yang empatik, buku ini membantu pembaca memahami bahwa menjadi tidak sempurna bukanlah kegagalan. Justru, menerima kekurangan diri membuka jalan menuju hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan orang lain. Buku ini cocok bagi kamu yang lelah menuntut diri terlalu keras.

2. Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl

Ilustrasi buku yang harus kamu baca sebelum usia 30 tahun. (Pinterest/Shivani Choudhary)

Buku ini menunjukkan bahwa hidup tetap memiliki makna, bahkan dalam kondisi paling tidak ideal. Viktor Frankl menceritakan pengalamannya bertahan di tengah penderitaan ekstrem, dan bagaimana makna hidup tidak bergantung pada kesempurnaan keadaan.

Bagi pembaca yang merasa hidupnya berantakan atau jauh dari harapan, buku ini memberi sudut pandang yang menenangkan. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak harus berjalan mulus untuk tetap bermakna. Ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman manusia.

3. The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson

Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson. (miro.medium.com)

Mark Manson menantang gagasan bahwa kita harus selalu positif dan berhasil. Buku ini membahas bagaimana menerima keterbatasan dan kegagalan justru membuat hidup lebih jujur. Dengan gaya lugas, pembaca diajak berdamai dengan realitas hidup yang tidak sempurna.

Buku ini membantu mengubah cara pandang terhadap kegagalan. Hidup tidak harus selalu berjalan sesuai rencana untuk tetap layak dijalani. Dengan memilih hal-hal yang benar-benar penting, pembaca belajar melepaskan tekanan untuk selalu menjadi versi terbaik setiap saat.

4. Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom

Ilustrasi rekomendasi buku untuk kamu yang ingin mencintai hidup lagi. (Pinterest/Lifestyle)

Buku ini berisi percakapan tentang kehidupan antara seorang murid dan gurunya yang sedang menghadapi akhir hidup. Morrie mengajarkan bahwa hidup tidak dinilai dari pencapaian besar, melainkan dari bagaimana kita mencintai dan hadir bagi sesama.

Melalui kisah yang sederhana namun dalam, buku ini mengingatkan bahwa hidup yang bermakna tidak harus sempurna. Ketidaksempurnaan, keterbatasan fisik, dan kesalahan masa lalu tetap bisa berdampingan dengan kebahagiaan dan ketenangan batin.

5. Buku puisi dan esai reflektif

Seorang perempuan sedang memilih buku bacaan. (pexels.com/cottonbro studio)

Buku puisi dan esai reflektif sering menggambarkan hidup apa adanya, tanpa polesan berlebihan. Kata-kata yang jujur tentang luka, kegagalan, dan kelelahan membuat pembaca merasa diterima. Buku-buku ini tidak menawarkan solusi, tetapi menemani proses.

Bagi banyak orang, membaca puisi atau esai reflektif membantu melepaskan beban untuk selalu baik-baik saja. Dari sana, pembaca belajar bahwa hidup yang tidak sempurna tetap layak dirayakan. Ketidakteraturan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Hidup tidak pernah menuntut kita untuk sempurna, hanya jujur dan bertumbuh. Lima buku di atas mengajarkan bahwa menerima ketidaksempurnaan adalah bentuk kedewasaan emosional. Ketika kita berhenti mengejar hidup yang ideal dan mulai menerima hidup yang nyata, di sanalah ketenangan perlahan muncul.

Itulah 5 buku yang mengajarkan bahwa hidup tidak harus sempurna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team