Para siswa yang diduga keracunan MBG saat dirawat di puskesmas. (dok. Istimewa)
Dia mengungkapkan kronologi kejadian dugaan keracunan MBG yang menimpa 38 siswa SD/MI di Desa Darmaji. Sekitar pukul 09.00 WITA, sejumlah siswa mengonsumsi susu yang disuplai oleh pihak SPPG dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selang beberapa waktu setelah mengonsumsi, sejumlah siswa mengeluhkan gejala klinis berupa mual dan pusing. Korban awal berasal dari MI Hadayatussholihin Darmaji dan SDN 1 Darmaji, yang kemudian dilarikan ke Puskesmas Pengadang. Seiring bertambahnya jumlah siswa yang mengeluhkan gejala serupa, sebagian korban dirujuk ke Puskesmas Muncan untuk mendapatkan penanganan medis.
Tidak lama setelah siswa/siswi mengalami pusing dan mual, pihak SPPG mengirim chat WhatsApp di grup sekolah, supaya susu jangan diminum dulu agar dikumpulkan dan diganti karena sebagian susu sudah expired. Namun pihak sekolah menyampaikan susu sudah habis diminum.
Sekitar pukul 10.00 WITA, sebagian siswa/siswi yang dirawat di Puskesmas Pengadang dan Muncan dibolehkan pulang. "38 siswa itu saya bawa ke puskesmas. Ada yang ke Puskesmas Pengadang dan Puskesmas Muncan. Sekarang masih ada dua orang masih diinfus, dirawat inap," ucap Suhaidi.
Dia mengatakan kasus keracunan MBG di Desa Darmaji merupakan yang pertama kali. Kuat dugaan, susu MBG sudah kedaluwarsa. Ada susu yang expired per tanggal 16 Januari 2026 dan 17 Januari 2026.
"Makanya kuat dugaan saya mereka keracunan karena susunya, karena masif (banyak) siswa yang keracunan. Kalau hanya sakit biasa tidak sampai 38 orang, mungkin satu atau dua orang," kata dia.