Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
22 Ribu Warga NTB Bekerja ke Luar Negeri akibat Mismatch Kompetensi
Pengiriman TKI NTB ke Malaysia. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Sebanyak 22 ribu warga NTB bekerja ke luar negeri sepanjang Januari–September 2026, terutama ke Malaysia, Taiwan, Timur Tengah, Jepang, Turki, dan Singapura, akibat kompetensi lulusan tak selaras kebutuhan industri.
  • Disnakertrans NTB menggencarkan pelatihan kesiapan kerja dan sertifikasi bagi lulusan SMK serta perguruan tinggi, sambil mendorong upskilling dan diversifikasi kurikulum sesuai kebutuhan pasar.
  • Pada Mei 2026, angkatan kerja NTB mencapai 3,24 juta orang dan 3,14 juta bekerja; sektor pertanian menyerap 33,95 persen tenaga kerja, sementara pengangguran terbuka sebesar 2,98 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB mencatat sejak Januari hingga September 2026, sebanyak 22 ribu warga NTB mengadu nasib ke luar negeri. Ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri menjadi penyebab banyaknya warga NTB memilih bekerja ke luar negeri.

​Kepala Disnakertrans NTB, Aidy Furqan mengatakan sebagian besar warga NTB yang menjadi pekerja migran ke luar negeri dengan negara tujuan Malaysia, Taiwan, Timur Tengah, Jepang, Turki, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.

"Kalau lapangan pekerjaan di NTB seharusnya tidak terbatas. Cuma, kompetensi lulusan belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Misalnya melimpah lulusan tamatan A, padahal yang dibutuhkan tamatan B," kata Aidy di Mataram, Jumat (23/10/2026).

1. Pelatihan persiapan memasuki dunia kerja dan sertifikasi

Kepala Disnakertrans NTB Aidy Furqan. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Aidy mengatakan pihaknya sedang menggencarkan pelatihan persiapan memasuki dunia kerja bagi lulusan SMK dan perguruan tinggi. Selain itu juga dilakukan program sertifikasi, sehingga lulusan SMK dan perguruan tinggi benar-benar siap kerja.

"Perlu kita bangun kesadaran enterpreneur dan jangan milih-milih pekerjaan. Kalau kompeten di situ, kerjakan," kata dia.

Aidy mengungkapkan kondisi ketimpangan lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia industri. Misalnya, suatu program studi menghasilkan lulusan 500 orang, tetapi lowongan pekerjaan yang tersedia hanya 200 orang. Sebaliknya, ada sektor pekerjaan yang membutuhkan 500 orang, tetapi jumlah lulusannya hanya 40 orang.

2. Surplus lulusan yang tidak sesuai kebutuhan pasar kerja

Kegiatan job fair di Universitas Muhammadiyah Mataram untuk peluang kerja di luar negeri. (IDN Times/Muhammad Nasir)

​Akibatnya, banyak lowongan pekerjaan strategis di daerah yang akhirnya justru diisi dari luar daerah. Sehingga, solusinya kata dia, adalah peningkatan keahlian atau upskilling serta diversifikasi kurikulum baik di perguruan tinggi maupun SMK.

​"Model lama sudah tidak bisa dipakai lagi. Sekarang walaupun gelarnya bertumpuk-tumpuk, kalau tidak kompeten maka terlibas juga. Ada juga yang tidak punya gelar, tapi di mana-mana dia jadi manajer. Itulah karena punya kompetensi," kata dia.

Eks Kepala Dinas Dikbud NTB itu juga menyoroti adanya fenomena surplus pada program studi tertentu di perguruan tinggi yang tidak berpijak pada kebutuhan pasar kerja. Padahal, sektor yang saat ini tengah tumbuh pesat dan dibutuhkan di NTB adalah bidang pertambangan dan pariwisata.

Namun, jurusan pertambangan di perguruan tinggi masih sangat minim. Kalaupun ada perguruan tinggi yang sudah membuka program studi pertambangan namun belum berjalan secara maksimal.

"Semua jenjang pendidikan yang menghasilkan tamatan usia 18 tahun ke atas itu berpotensi jadi penyumbang pengangguran. Karena masih ada di antara mereka yang membuka prodi jurusan tidak melihat kebutuhan pasar kerja," tandasnya.

3. Angkatan kerja di NTB mencapai 3,24 juta orang

Para pencari kerja melihat lowongan pekerjaan pada kegiatan job fair di Universitas Muhammadiyah Mataram, Sabtu (9/8/2025). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Berdasarkan data BPS, jumlah angkatan kerja di NTB berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026 sebanyak 3,24 juta orang, naik 5,56 ribu orang dibanding Februari 2026. Sedangkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun sebesar 0,20 persen dibanding Februari 2026.

Jumlah penduduk NTB yang bekerja sebanyak 3,14 juta orang, meningkat sebanyak 5,65 ribu orang dari Februari 2026. Lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja paling banyak adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebanyak 1,07 juta orang atau 33,95 persen.

Pada Mei 2026 sebanyak 918,44 ribu orang atau 29,20 persen bekerja pada kegiatan formal, turun sebesar 0,31 persen dibanding Februari 2026. Sedangkan persentase setengah pengangguran di NTB pada Mei 2026 naik sebesar 1,99 persen, sebaliknya persentase pekerja paruh waktu turun sebesar 6,09 persen dibanding Februari 2026.

Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) NTB pada Mei 2026 sebesar 2,98 persen. Angka TPT turun tipis 0,01 persen dibandingkan dengan Februari 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article