Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
2 Pasien Meninggal, Kemenkes Kirim 200 Ribu Dosis Vaksin Campak ke NTB
ilustrasi imunisasi campak (freepik.com/freepik)
  • Dua pasien suspek campak di Kabupaten Bima meninggal dunia, membuat tiga wilayah di NTB ditetapkan sebagai KLB dan dilakukan imunisasi tanggap wabah di seluruh puskesmas.
  • Kemenkes mengirim 200 ribu dosis vaksin campak ke NTB untuk imunisasi bagi 81.237 sasaran, terutama balita, guna menekan lonjakan kasus di Bima, Kota Bima, dan Dompu.
  • Kasus suspek campak didominasi balita dengan imunisasi tidak lengkap; pemerintah memperkuat surveilans, edukasi masyarakat, serta menyediakan logistik dan area isolasi khusus di fasilitas kesehatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
pekan ketujuh tahun 2026

Dinas Kesehatan NTB mencatat total 985 kasus suspek campak di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu hingga pekan ketujuh tahun 2026.

17 Maret 2026

Kepala Dinas Kesehatan NTB Lalu Hamzi Fikri menyatakan dua pasien suspek campak meninggal di Kabupaten Bima. Tiga daerah di wilayah timur NTB ditetapkan sebagai KLB campak, dan Kemenkes mengirimkan 20 ribu vial atau 200 ribu dosis vaksin ke NTB untuk penanganan.

kini

Imunisasi campak digencarkan dengan target sasaran 81.237 jiwa di tiga daerah berstatus KLB. Pemerintah memperkuat surveilans, edukasi masyarakat, serta memastikan ketersediaan logistik dan fasilitas isolasi untuk menekan penyebaran campak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Dua pasien suspek campak di Kabupaten Bima, NTB meninggal dunia. Kementerian Kesehatan mengirim 200 ribu dosis vaksin campak untuk menangani Kejadian Luar Biasa (KLB) di tiga daerah wilayah timur NTB.
  • Who?
    Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi NTB yang dipimpin dr. Lalu Hamzi Fikri, serta masyarakat di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu sebagai penerima imunisasi.
  • Where?
    Kejadian terjadi di Kabupaten Bima, dengan penanganan meliputi wilayah Kota Bima dan Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Distribusi vaksin dilakukan ke 38 puskesmas di tiga daerah tersebut.
  • When?
    Kematian dua pasien tercatat pada Maret 2026. Pengiriman vaksin dilakukan segera setelah penetapan status KLB dan kegiatan imunisasi dijadwalkan berlangsung selama satu bulan ke depan.
  • Why?
    Peningkatan kasus campak disebabkan rendahnya cakupan imunisasi rutin, mobilitas penduduk tinggi, keterlambatan deteksi dini, serta faktor lingkungan dan perilaku masyarakat yang mempercepat penyebaran penyakit.
  • How?
    Pemerintah melakukan Outbreak Response Immunization (ORI), distribusi 20 ribu vial vaksin campak ke tiga kabupaten/k
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dua orang sakit campak di Bima meninggal. Banyak anak kecil juga sakit di Bima, Dompu, dan Kota Bima. Pemerintah kirim banyak vaksin campak ke sana supaya anak-anak bisa disuntik dan tidak sakit lagi. Dokter dan petugas puskesmas kerja keras kasih imunisasi buat bayi dan balita biar semua sehat lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah situasi KLB campak di NTB, respons cepat pemerintah menunjukkan koordinasi kesehatan yang kuat. Pengiriman 200 ribu dosis vaksin dan pelaksanaan imunisasi massal di 38 puskesmas memperlihatkan komitmen serius melindungi balita. Dukungan logistik, edukasi masyarakat, serta penguatan surveilans dan isolasi menandakan kesiapsiagaan sistem kesehatan daerah menghadapi wabah secara terpadu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mataram, IDN Times - Dua pasien suspek penyakit campak di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) meninggal dunia. Saat ini, tiga daerah di wilayah timur NTB yaitu Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB dr. Lalu Hamzi Fikri mengatakan telah dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) pada seluruh Puksesmas di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu untuk menekan kasus campak. Dengan prioritas ORI diberikan bagi bayi dan balita berusia 9 sampai dengan 59 bulan.

"Waktu pak Menkes hadir di Bima, memang tercatat dua kematian di Kabupaten Bima. Sehingga terjadi KLB di Kabupaten Bima termasuk Kota Bima dan Dompu," kata Fikri, Selasa (17/3/2026).

1. Kemenkes berikan 20 ribu vial vaksin campak

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Fikri menjelaskan Dinas Kesehatan meminta hampir 20 ribu vial vaksin campak ke Kemenkes untuk penanganan KLB campak di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu. Kemenkes sudah merespons permintaan tersebut dengan mengirimkan 20 ribu vial atau 200 ribu dosis vaksin campak ke NTB.

Selanjutnya, kata Fikri, vaksin tersebut telah didistribusikan ke tiga kabupaten/kota untuk dilakukan imunisasi kepada masyarakat kelompok rentan terutama bagi bawah lima tahun (balita). Kegiatan ORI dilakukan di 38 puskesmas pada tiga kabupaten/kota yang berstatus KLB tersebut.

2. Imunisasi campak dengan target sasaran 81.237 jiwa

Dinas Kesehatan Bantul melaksanakan kick off imunisasi Japanese Encephalitis (JE). (IDN Times/Daruwaskita)

Dia menyebutkan jumlah target sasaran imunisasi campak di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu sebanyak 81.237 jiwa. Imunisasi campak digencarkan di tiga daerah tersebut dalam sebulan ke depan.

"Doping vaksin 20 ribu vial sudah kita distribusikan ke kabupaten/kota. Sasaran 81.237 jiwa ini bisa tercover terutama balita karena kelompok paling rentan terhadap penyakit campak," terangnya.

Fikri mengungkapkan imunisasi campak dapat menekan peningkatan kasus. Beberapa waktu lalu dilakukan kunjungan pada dua puskesmas, dimana imunisasi campak sudah di atas 90 persen, jumlah kasus suspek campak menurun.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB hingga pekan ketujuh tahun 2026, tercatat total 985 kasus suspek campak di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu. Peningkatan kasus dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) lengkap.

Fluktuasi cakupan imunisasi rutin yang belum optimal dalam beberapa tahun terakhir juga membuka akumulasi populasi rentan. Selain itu, tingginya mobilitas penduduk pada akhir dan awal tahun juga menjadi faktor penyebab meningkatnya kasus campak di NTB. Kemudian keterlambatan deteksi dan respons awal, serta faktor lingkungan dan perilaku menjadi penyebab peningkatan kasus.

3. Kasus suspek campak didominasi balita

ilustrasi virus campak (unsplash.com/CDC)

Fikri mengungkapkan kasus suspek campak di tiga kabupaten/kota tersebut didominasi oleh balita. Sebagian besar kasus terjadi pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap atau belum pernah diimunisasi. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya KLB.

Pemprov NTB bersama pemerintah kabupaten/kota telah mengambil langkah dengan melakukan penguatan surveilans aktif dan pelacakan kontak di tingkat desa dan puskesmas. Selain itu pelaksanaan. Langkah penanganan juga dilakukan dengan pemberian vitamin A pada kasus campak untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko kematian.

Selanjutnya, penguatan edukasi masyarakat mengenai gejala campak, pentingnya imunisasi lengkap, dan segera berobat ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala demam disertai batuk atau pilek dan ruam. Serta menjamin ketersediaan logistik KLB, termasuk vaksin, vitamin A, dan dukungan tata laksana klinis di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Upaya lainnya dengan penguatan triase isolasi campak di fasyankes yang fokus pada pemisahan cepat suspek dengan gejala demam, ruam, batuk atau pilek di Instalasi Gawat Darurat (IGD) atau rawat jalan. Penyediaan area isolasi khusus serta penanganan segera pasien dengan komplikasi sesak, diare, sulit makan untuk mencegah penularan intensif, terutama saat lonjakan kasus KLB.

Editorial Team