Ilustrasi beras kemasan dan minyak goreng. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2024-September 2025, kata Wahyudin, jumlah penduduk miskin perkotaan di NTB naik sebesar 11,20 ribu orang sedangkan di perdesaan turun sebesar 32,62 ribu orang. Dia menyebut persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 11,64 persen menjadi 11,70 persen. Sementara itu, di perdesaan turun dari 12,21 persen menjadi 11,02 persen.
Dipaparkan, garis kemiskinan di NTB pada September 2025 sebesar Rp575.856 per kapita per bulan. Dibandingkan Maret 2025, garis kemiskinan naik sebesar 3,41 persen. Sementara jika dibandingkan September 2024, terjadi kenaikan sebesar 6,57 persen.
Pada periode September 2024-September 2025, garis kemiskinan di perkotaan naik sebesar 6,99 persen dari Rp554.327 per kapita per bulan menjadi Rp593.069 per kapita per bulan. Sementara, di perdesaan juga mengalami kenaikan sebesar 5,83 persen dari Rp525.027 per kapita per bulan menjadi Rp555.647 per kapita per bulan.
Komponen garis kemiskinan terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan makanan (GKBM). Wahyudin mengatakan besarnya sumbangan GKM terhadap garis kemiskinan pada September 2025 di perkotaan sebesar 75,81 persen dan perdesaan sebesar 75,80 persen.
Pada September 2025, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan di NTB, baik perkotaan maupun perdesaan, pada umumnya hampir sama yaitu beras dan rokok. Dikatakan, beras masih menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan, yaitu sebesar 25,89 persen di perkotaan dan 29,85 persen di perdesaan.
Kemudian, rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan yaitu 8,62 persen di perkotaan dan 4,88 persen di perdesaan. Komoditas lainnya adalah telur ayam ras menyumbang sebesar 3,44 persen di perkotaan dan 3,76 persen di perdesaan, daging ayam ras sebesar 3,15 persen di perkotaan dan 3,42 persen di perdesaan, roti sebesar 2,45 persen di perkotaan dan 2,69 persen di perdesaan.
Kemudian kopi bubuk dan kopi instan masing-masing sebesar 2,16 persen di perkotaan dan 2,56 persen di perdesaan, ikan tongkol, tuna, cakalang sebesar 2,55 persen di perkotaan dan 1,66 persen di perdesaan. Sedangkan komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan di perkotaan dan perdesaan, adalah perumahan 8,62 persen di perkotaan dan 10,05 persen di perdesaan.
Kemudian pendidikan sebesar 2,40 persen di perkotaan dan 1,47 persen di perdesaan, dan bensin sebesar 2,21 persen di perkotaan dan 1,67 persen di perdesaan. Selanjutnya, listrik, perlengkapan mandi, pakaian jadi perempuan dewasa, perawatan kulit, muka, kuku, rambut serta kesehatan.
Garis kemiskinan per rumah tangga miskin di NTB pada September 2025 sebesar Rp2.516.491 per bulan bulan. Angkanya naik sebesar 5,84 persen dibanding kondisi Maret 2025 yakni sebesar Rp2.377.732 per bulan.