Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pasangan tak saling peduli (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi pasangan tak saling peduli (pexels.com/RDNE Stock project)

Bima, IDN Times - Mengurus bayi baru lahir memang penuh tantangan, baik secara fisik maupun emosional. Nggak heran kalau banyak ibu baru yang mengalami baby blues. Perasaan sedih, kelelahan, sampai gampang tersinggung jadi bagian dari fase ini. Sebagai pasangan, kamu punya peran besar untuk mendukung dan membantunya melewati masa sulit ini.

Tapi hati-hati, lho. Sikap yang salah malah bisa bikin kondisinya makin berat. Yuk, hindari tujuh kesalahan berikut biar hubungan kalian tetap harmonis dan pasanganmu merasa lebih diperhatikan!

1. Menganggap baby blues sebagai hal sepele

ilustrasi ibu terkena baby blues (pexels.com/RDNE Stock project)

Salah satu kesalahan terbesar adalah menganggap remeh baby blues. Mungkin kamu berpikir, “Ah, nanti juga hilang sendiri.” Padahal, kondisi ini bisa sangat menguras mental pasanganmu.

Coba lebih peka, deh. Baby blues itu bukan sekadar capek biasa. Dengarkan keluhannya dengan serius, jangan buru-buru nyuruh dia untuk sabar atau kuat. Kadang, dia cuma butuh didengar.

2. Gak membantu mengurus bayi

ilustrasi ayah yang sibuk (pexels.com/William Fortunato)

Walaupun kamu sibuk kerja di luar rumah, bukan berarti semua urusan bayi jadi tanggung jawab pasanganmu. Kalau kamu sering lepas tangan, dia bisa merasa sendirian menghadapi semuanya.

Luangkan waktu buat bantu, meski cuma ganti popok, nenangin bayi, atau kasih dia waktu istirahat sebentar. Hal kecil ini bisa bikin dia merasa lebih dihargai.

3. Menyalahkan perubahan emosinya

ilustrasi ibu terkena baby blues (pexels.com/RDNE Stock project)

Pasanganmu mungkin jadi lebih gampang nangis atau marah tanpa alasan jelas. Kalau kamu malah nyalahin atau nge-judge dia, itu cuma bikin keadaan makin buruk.

Ingat, perubahan hormon setelah melahirkan adalah salah satu penyebab utama baby blues. Tunjukkan empati dan pengertian, bukan kritik.

4. Membandingkan dengan ibu lain

ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/William Fortunato)

Komentar seperti, “Ibu si A kok bisa lebih tenang,” itu nyakitin banget, lho. Setiap ibu punya perjalanan dan tantangan masing-masing.

Daripada membandingkan, fokuslah untuk mendukung dia. Bilang bahwa dia sudah melakukan yang terbaik untuk bayi kalian.

5. Menghindari komunikasi emosional

ilustrasi seseorang melakukan silent treatment (pexels.com/Timur Weber)

Baby blues sering bikin pasanganmu merasa sendirian, meski kamu ada di dekatnya. Kalau kamu cuma sibuk sama rutinitas tanpa perhatian emosional, dia bakal merasa makin terisolasi.

Ajak dia ngobrol dari hati ke hati. Tanyakan apa yang dia rasakan dan butuhkan. Pastikan dia tahu bahwa kamu ada untuknya. Hal sederhana ini bisa bikin dia merasa lebih tenang.

6. Terlalu fokus pada bayi, lupa pada pasangan

ilustrasi ayah merawat bayi (freepik.com/freepik)

Wajar kalau perhatianmu banyak tercurah untuk si kecil. Tapi jangan sampai pasanganmu merasa diabaikan. Dia juga butuh perhatian, terutama saat menghadapi baby blues.

Berikan pujian, pelukan, atau waktu berdua tanpa distraksi. Ini bakal bikin dia merasa lebih dihargai dan didukung.

7. Gak mau mencari bantuan profesional

ilustrasi hubungan yang monoton (pexels.com/Alex Green)

Kalau kondisi pasanganmu makin memburuk, jangan ragu cari bantuan profesional. Banyak orang menganggap pergi ke psikolog itu berlebihan, padahal itu bisa sangat membantu mencegah baby blues berkembang jadi depresi pascapersalinan.

Diskusikan opsi ini dengan pasanganmu. Kadang, dukungan dari ahlinya bisa jadi solusi terbaik.

Menghadapi pasangan yang sedang baby blues memang butuh kesabaran ekstra. Kesalahan kecil bisa bikin dia makin tertekan. Jadi, pastikan kamu hadir sebagai pasangan yang suportif dan peduli. Dengan melewati masa sulit ini bersama, hubungan kalian bakal makin kuat dan si kecil tumbuh di lingkungan penuh cinta.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team