Dalam hiruk-pikuk hidup, sering kali kita terlalu sibuk mengejar sesuatu hingga tanpa sadar melupakan kebahagiaan. Kita terjebak dalam daftar tugas, tenggat waktu, ekspektasi, dan rutinitas, sampai lupa bagaimana rasanya tertawa lepas tanpa beban. Bahkan saat semuanya tampak baik di permukaan, ada ruang kosong yang tak terisi, karena kebahagiaan bukan datang dari pencapaian, tapi dari kehadiran kita yang utuh dalam momen.
Surat ini ditulis sebagai pengingat lembut untuk dirimu yang sedang merasa lelah tapi terus berjalan. Untukmu yang sudah begitu jauh melangkah, namun lupa bertanya apakah masih bahagia. Ini bukan teguran, melainkan pelukan: kamu boleh berhenti sejenak. Untuk mengingat kembali rasa bahagia itu, dan belajar menemukannya lagi, di hal-hal kecil, di diri sendiri, di hidup yang sekarang.
Berikut surat untuk diri sendiri yang lupa bahagia.