Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Mengenal Pornografi Inspirasi, Dampak dan Cara Menghindarinya

ilustrasi orang dengan disabilitas (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
ilustrasi orang dengan disabilitas (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

Istilah pornografi inspirasi mungkin belum banyak diketahui orang. Istilah ini seringkali dikaitkan dengan kehidupan atau kondisi orang dengan disabilitas. Sadar atau tidak, sikap atau perilaku kita seringkali merujuk pada pornografi inspirasi ini, lho.

Melansir Let’s Defeat Bullying, pornografi inspirasi adalah kondisi di mana seseorang dijadikan sebagai objek inspirasi. Dalam kaitannya dengan disabilitas, pornografi inspirasi adalah objektifikasi orang dengan disabilitas untuk dijadikan inspirasi bagi orang lain.

Rupanya, pornografi inspirasi ini memberikan sejumlah dampak yang tidak dapat disepelekan. Untuk lebih mengetahui apa itu pornografi inspirasi, siapa pencetusnya, serta dampak yang dihasilkan, simak penjelasan di bawah ini, yuk!

1. Diperkenalkan oleh Stella Young

Stella Young (ted.com)
Stella Young (ted.com)

Pornografi inspirasi adalah sebuah istilah yang diperkenalkan oleh seorang aktivis, jurnalis, dan komedian disabilitas asal Australia bernama Stella Young dalam presentasinya berjudul I'm not your inspiration, thank you very much yang dimuat di TED Talks, April 2014.

Seperti yang sudah disinggung di awal, pornografi inspirasi adalah istilah yang dipakai untuk mengobjektifikasi kondisi seseorang sebagai bahan untuk dijadikan inspirasi bagi orang lain. Dalam kasus Stella Young, sebagai seorang penyandang disabilitas, pornografi inspirasi membuatnya merasa dijadikan sebagai objek inspirasi bagi orang lain. Hal itu membuatnya kurang nyaman.

Disabilitas dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa sehingga orang-orang akan cenderung melihat orang dengan disabilitas sebagai objek yang dapat membuat mereka terinspirasi karena kemampuan mereka melakukan apa yang orang normal tidak bisa lakukan.

Namun, bagi Stella Young, disabilitas bukanlah sesuatu yang luar biasa. Menganggap orang dengan disabilitas sebagai orang yang luar biasa justru terkesan berlebihan. Sebaliknya apa yang dilakukan oleh orang dengan disabilitas yang tidak mampu dilakukan oleh orang normal adalah hal yang memang bisa mereka lakukan dan sesuai dengan kemampuan mereka.

Oleh karenanya, menganggap disabilitas sebagai sesuatu yang luar biasa justru sama saja dengan menganggapnya sebagai sebuah tragedi. Bahkan hal ini juga bisa dikategorikan sebagai bentuk diskriminasi. 

2. Bentuk-bentuk pornografi inspirasi

ilustrasi orang dengan disabilitas (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
ilustrasi orang dengan disabilitas (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

Sadar atau tidak, bentuk pornografi inspirasi tak jarang kita lakukan. Hal ini makin terlihat ketika media juga membantu mempromosikan hal tersebut. Misalnya, ketika kita melihat seseorang yang mengalami cacat pada tangan dan mampu menulis menggunakan kaki, lalu menganggap itu sebagai hal luar biasa.

Mirisnya kondisi tersebut kemudian dibanding-bandingkan dengan kondisi orang normal agar lebih bersyukur atas anggota tubuh yang dimiliki. Ada pula kondisi di mana seorang yang mengalami kondisi disabilitas tertentu lalu mampu meraih penghargaan atau kesuksesan, dijadikan sebagai bahan atau objek untuk dipublikasikan oleh media.

Bentuk pornografi inspirasi lainnya adalah ketika mengunggah foto atau gambar yang memperlihatkan seseorang tengah menolong atau melayani kaum disabilitas dengan dalih aksi kemanusiaan demi mendapat popularitas.

Pada dasarnya mengagungkan kondisi orang dengan disabilitas adalah sesuatu yang berlebihan. Terlalu menyuarakan sisi positif dari kondisi disabilitas seseorang dapat memudarkan fakta atas ketidakadilan dan kesulitan-kesulitan yang juga dialami oleh mereka.

Seringkali sudut pandang orang dengan disabilitas diabaikan sehingga yang terlihat di media tidak semuanya merepresentasikan kenyataan yang dialami oleh mereka.

3. Dampak

ilustrasi orang dengan disabilitas (pexels.com/Marcus Aurelius)
ilustrasi orang dengan disabilitas (pexels.com/Marcus Aurelius)

Mengobjektifikasi orang dengan disabilitas tentu bukanlah tindakan yang terpuji sekalipun terkesan baik. Pada dasarnya, menjadikan orang dengan kondisi cacat atau disabilitas sebagai motivasi bagi orang lain untuk lebih bersyukur dan tidak bermalas-malasan adalah suatu tindakan yang menghina.

Selain itu, menjadikan orang dengan disabilitas sebagai inspirasi atau motivasi sama dengan menganggap kondisi mereka sebagai suatu tragedi yang perlu dikasihani. Padahal bagi Stella Young, kondisi disabilitas adalah hal yang biasa. Disabilitas tidak membuat seseorang yang mengalaminya menjadi luar biasa.

Tak jarang, kondisi disabilitas seseorang dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk meraup popularitas dan keuntungan. Seringkali kita bahkan media terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang orang dengan disabilitas karena kita menggunakan sudut pandang kita sendiri tanpa memberi ruang untuk mengetahui sudut pandang dari mereka yang mengalami disabilitas.

4. Hal-hal yang perlu dihindari

ilustrasi orang dengan disabilitas (pexels.com/Cliff Booth)
ilustrasi orang dengan disabilitas (pexels.com/Cliff Booth)

Beberapa hal yang dapat kita lakukan agar tidak terjebak dalam pornografi inspirasi adalah sebagai berikut:

  1. Tidak menganggap kondisi disabilitas seseorang sebagai sebuah tragedi yang patut dikasihani. Bagaimana pun, orang dengan disabilitas juga manusia yang memiliki kemampuan sehingga kondisi mereka tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. 
  2. Jangan membuat asumsi pribadi tentang orang dengan disabilitas karena apa yang kita asumsikan belum tentu sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya, cari tahu apa yang menjadi pendapat atau sudut pandang mereka tentang bagaimana mereka ingin diperlakukan.
  3. Jangan menggunakan foto, gambar, atau video tanpa izin mereka. Bisa jadi, mereka merasa tidak nyaman sekalipun maksud kita baik.

Sudah saatnya kita mereformasi pemahaman kita tentang orang dengan disabilitas sehingga tidak terjebak dalam pornografi inspirasi. Dengan pemahaman yang benar, akan sangat mungkin kita terhindar dari sikap objektifikasi dan diskriminasi terhadap mereka.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arya Sarimata
EditorArya Sarimata
Follow Us