Pernikahan sering dibayangkan sebagai tujuan akhir dari cinta, padahal secara psikologis, ia adalah awal dari fase kehidupan yang jauh lebih kompleks. Banyak orang mempersiapkan pesta, tanggal, dan administrasi, tetapi lupa mempersiapkan diri secara mental dan emosional. Akibatnya, bukan karena kurang cinta, melainkan karena kurang kesiapan batin, pernikahan menjadi ruang yang melelahkan.
Mempersiapkan diri untuk menikah berarti berani melihat ke dalam diri sendiri: luka yang belum sembuh, harapan yang belum realistis, serta kebutuhan emosional yang sering tak disadari. Tips-tips berikut bukan tentang menjadi pasangan sempurna, melainkan tentang menjadi pribadi yang lebih sadar sebelum berjalan bersama orang lain.
Berikut 6 tips psikologis untuk mempersiapkan diri kamu menghadapi pernikahan.
