Di dunia yang sering kali menuntut kesempurnaan, baik dari penampilan, prestasi, hingga kehidupan sosial, ketidaksempurnaan kerap dianggap sebagai kelemahan. Padahal, justru di balik ketidaksempurnaanlah terdapat ruang tumbuh, keaslian, dan koneksi manusiawi yang paling tulus.
Menjadi sempurna mungkin terasa aman, tapi menjadi autentik jauh lebih membebaskan. Merayakan ketidaksempurnaan bukan berarti pasrah atau tidak berusaha. Sebaliknya, ini adalah bentuk penerimaan diri yang sehat, mengakui bahwa menjadi manusia berarti bisa salah, bisa rapuh, dan tetap berharga.
Berikut 6 cara sederhana namun bermakna untuk merayakan ketidaksempurnaan dalam kehidupan sehari-hari.