Dalam banyak budaya, pekerjaan tidak hanya sekadar sumber penghasilan bagi laki-laki, tetapi juga simbol identitas, harga diri, dan kemampuan untuk melindungi orang-orang yang mereka sayangi. Karena itu, kehilangan pekerjaan sering kali bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan guncangan pada inti diri mereka. Situasi ini dapat menghadirkan rasa terpuruk yang tidak mudah diungkapkan, terutama bagi laki-laki yang terbiasa memendam emosinya demi terlihat kuat di hadapan keluarga.
Dari sudut pandang psikologi, kehilangan pekerjaan dapat memicu berbagai dampak emosional, kognitif, dan sosial yang saling memengaruhi. Perubahan mendadak pada rutinitas, hilangnya peran sosial, dan ketidakpastian masa depan dapat membawa laki-laki ke fase krisis identitas. Lewat artikel ini, penulis mencoba menggambarkan dampak psikologis yang paling sering dialami laki-laki ketika mereka kehilangan pekerjaan. Bukan untuk melemahkan, tetapi untuk membantu memahami bahwa perasaan itu valid dan manusiawi.
Berikut 5 dampak psikologis ketika laki-laki kehilangan pekerjaan.
