Comscore Tracker

Liburan ke Pantai Wane, Surga Surfing hingga Saksikan Lumba-Lumba 

Kades: Kami kecewa tidak dijadikan sebagai desa wisata

Bima, IDN Times - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak perlu diragukan akan kekayaan destinasi wisata alamnya. Seperti salah satunya, keindahan eksotik Pantai Wane yang berada di Kabupaten Bima. 

Pantai Wane ibaratnya surga dunia, pengunjung bisa bermain surfing di tengah gelombang lautnya yang menantang. Bahkan kalau sedang beruntung, kalian pun bisa menyaksikan gerombolan lumba-lumba yang berenang di sekitar Pantai Wane. 

Suasana makin syahdu dengan panorama alam di kawasan pantai yang menakjubkan mata. 

1. Bisa surfing

Liburan ke Pantai Wane, Surga Surfing hingga Saksikan Lumba-Lumba Sumber Gambar: www.theinertia.com

Di kawasan pantai ini memiliki ombak yang deras dan kencang. Hal ini terjadi karena Pantai Wane terhubung langsung dengan Samudera Hindia sehingga angin berhembus sedikit lebih kencang dan membawa ombak laut hingga ke bibir pantai.

Tentu dengan gelombang mengalun deras itu, Pantai Wane sangat cocok untuk surfing menggunakan papan seluncur. Tidak hanya surfing, namun di pantai ini pengunjung juga bisa menyaksikan langsung lumba-lumba yang melompat mengikuti gelombang.

Agar bisa mendapatkan moment itu, wisatawan cukup menyewa perahu nelayan di sekitar lokasi. Kemudian masuk ke area laut sekitar ratusan meter dari bibir pantai.

Baca Juga: Tradisi Adat Hanta Ua Pua Bima Peninggalan Kesultanan Bima

2. Miliki hamparan pasir putih yang bersih

Liburan ke Pantai Wane, Surga Surfing hingga Saksikan Lumba-Lumba Foto pengunjung Pantai Wane (IDN Times/Juliadin)

Karena memiliki arus gelombang yang kencang, tidak heran jika selama menikmati pantai ini wisatawan akan ditemani suara deburan ombak yang menghantam karang. Batu-batu karang ini cukup indah, menjulang tinggi di bagian pesisir pantai.

Selain batu karang, Pantai Wane juga menyajikan hamparan pasir putih yang indah dan bersih. Tanpa ada sampah yang bertebaran, terlebih ranting-ranting pohon yang mengotori hamparan pasir. 

Tentu dengan kebersihan pasir tersebut, pengunjung bisa melakukan apa saja untuk membumbui aktivitas. Misalnya berjemur atau bermain pasir bersama keluarga dan kerabat.

Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa membakar ikan yang masih segar hasil tangkapan nelayan sekitar. Tentunya dengan harga yang ramah kantong, untuk satu boxs  dibanderol Rp200 hingga 250 ribu. 

3. Rute Pantai Wane

Liburan ke Pantai Wane, Surga Surfing hingga Saksikan Lumba-Lumba 

Sementara lokasi pantai ini terletak di Desa Tolotangga, Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Jika ingin berlibur, lokasinya relatif mudah untuk dijangkau, bisa menggunakan roda dua dan empat. Dari pusat Kabupaten Bima, wisatawan hanya habiskan waktu sekitar 2 jam dalam perjalanan.

Pengunjung akan melewati sejumlah pemukiman dan hamparan sawah yang hijau. Kemudian sebelum memasuki kawasan pantai, pengunjung bisa melihat kawasan tanaman bawang dan jagung milik warga.

Sementara untuk biaya parkir, di Pantai Wane nominal untuk roda dua dan empat dipukul rata. Masing-masing Rp10 ribu dengan jaminan akan dijaga hingga pengunjung meninggalkan lokasi.

4. Minim fasilitas penunjang

Liburan ke Pantai Wane, Surga Surfing hingga Saksikan Lumba-Lumba Foto ombak yang menghantam karang (IDN Times/Juliadin)

Meski menyimpan pesona yang menawan, namun Pantai Wane minim fasilitas penunjang. Tidak ada berdiri fasilitas musala, toilet, atau sekadar tempat duduk bagi para pengunjung. 

Kondisi ini yang membuat Kepala Desa Tolotangga Abidin mengaku kecewa terhadap pemerintah. Karena tidak menjadikan Pantai Wane sebagai desa wisata seperti sejumlah desa lain di Kabupaten Bima.

"Itu yang saya bingung, kok desa lain dijadikan desa wisata oleh pemerintah yang tidak ada wisatanya. Sementara desa kami yang sudah jelas memiliki pantai yang menawan, tidak," sesal dia pada IDN Times, Sabtu (12/11/2022).

Untuk pengembangan fasilitas penunjang Pantai Wane, Abidin mengaku sudah berulang kali mengajukan proposal permohonan bantuan kepada pemerintah. Sayangnya hingga hari ini tidak ada respons positif yang bisa diharapkan. 

"Sering kita ajukan proposal, tapi gak ada hasilnya. Mau pakai anggaran dana desa (ADD) juga tidak bisa, karena sudah digunakan penanganan COVID-19," tegasnya.

Baca Juga: Menikmati Keindahan Kota Bima dari Puncak Jatiwangi, Dijamin Takjub!

Topic:

  • Sri Wibisono

Berita Terkini Lainnya