Kupang, IDN Times - Senja mulai turun pelan di ufuk Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara kebanyakan anak muda bersiap menikmati akhir pekan, Hironimus Rebon justru masih setia menggenggam cangkul. Tubuhnya basah oleh peluh, namun wajahnya tetap tenang.
Di atas lahan seluas 2.500 meter persegi itu, ia menyiapkan tanah untuk ditanami sayuran esok hari. Kebun milik keluarganya ini bukan sekadar ladang, melainkan ruang tempat mimpi-mimpinya tumbuh—meski perlahan dan penuh tantangan.
“Kalau ada alat otomatis yang bisa bajak tanah, saya bisa pulang lebih cepat, lanjut kerjakan tugas kuliah,” ujar Hironimus saat dihubungi, Jumat (6/6/2025).
Ya, Hironimus bukan hanya seorang petani. Ia juga mahasiswa arsitektur di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Bertani dan beternak adalah aktivitas yang menafkahi pendidikannya. Di tengah geliat kota yang menawarkan mimpi modern, ia memilih membumi di tengah ladang-ladang sunyi.