Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Screenshot_2025-08-26-11-33-24-835_com.miui.mediaviewer-edit.jpg
Paulus Oki, warga Desa Inbate yang mengalami luka akibat konflik batas RI - Timor Leste. (Dok Polres TTU)

Intinya sih...

  • Bupati TTU sudah tiga kali ingatkan pemerintah pusat soal potensi konflik di Desa Inbate, TTU, NTT.

  • Falen sudah bersurat ke Kemendagri dan Kemenkopolkam sejak Juli 2025 untuk mengantisipasi pecahnya konflik di pal batas 36.

  • Falen meminta ketegasan pemerintah Indonesia maupun Timor Leste agar dapat menyelesaikan permasalahan ini melalui diplomasi antara kedua negara.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yosep Falentinus Delasalle Kebo, sudah tiga kali menyampaikan kepada beberapa menteri soal potensi pecahnya konflik terkait patok batas RI - Timor Leste di Desa Inbate, TTU, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Falen sudah mengingatkan pemerintah pusat sejak Juli 2025, tapi belum ada langkah konkret untuk mengantisipasi pecahnya konflik di pal batas 36. Namun pada 25 Agustus 2025 kekhawatirannya terjadi. Aparat UPF melepaskan tembakan ke warga Desa Inbate sehingga satu orang mengalami luka.

1. Ingatkan potensi konflik

Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Falen Kebo. (Dok Pemkab TTU)

Pemerintah TTU, kata dia, sudah bersurat ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menindaklanjuti permasalahan ini, 29 Juli 2025.

"Kami melihat ini ke depan pasti terjadi konflik. Itu kami sampaikan Juli," tukasnya, Rabu (27/8/2025).

Kemudian di 4 Agustus, Pemda TTU bersurat lagi ke Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenkopolkam).

"Iya, terkait hal yang sama supaya ada langkah," imbuhnya lagi.

Kemudian mereka diundang pada 15 Agustus. Ia diundang ke Jakarta untuk menyampaikan hal yang sama terkait potensi konflik ini ke Kemenkopolkam.

"Karena kami melihat secara langsung ini bisa terjadi konflik dalam waktu cepat atau lambat dan benar terjadi pada 25 Agustus kemarin," tukasnya.

2. Sudah tiba di Timor Leste

Bupati TTU bersama rombongan Pemerintah Provinsi NTT tiba di Timor Leste. (Dok Pemkab TTU)

Ia sendiri telah berada di Kota Dili karena diundang kegiatan oleh pihak Timor Leste. Pada momen yang sama ia akan menyampaikan hal terkait kasus yang telah terjadi di perbatasan kedua negara di TTU.

"Agar diproses walaupun insiden ini begitu cepat, mungkin mereka tidak ada niat tetapi kita minta untuk tetap proses atas kasus ini," kata Falen.

Ia berangkat ke Dili bersama Wakil Gubernur NTT, Irjen Pol (Purn) Drs. Johni Asadoma, dan Bupati Belu Willybrodus Lay. Mereka jadi undangan dalam acara pembukaan Pameran Perdagangan Internasional Dili (Dili International Trade Expo 2025) di Timor Leste. Ia kemudian melakukan rapat terbatas bersama Wakil Menteri terkait.

3. Minta hasil diplomasi dua negara

Petugas di lokasi sekitar penembakan RI - RDTL. (Dok Istimewa)

Ia meminta ketegasan pemerintah Indonesia maupun Timor Leste agar dapat menyelesaikan permasalahan ini

Ia sendiri bakal turun ke lokasi lagi, Sabu (30/8/2025),bersama Kodim, Pamtas dan Polres TTU terkait perkembangan kasus ini.

"Sejauh ini kami minta kepastian penyelesaian masalah di tingkat diplomasi antara Indonesia dan Timor Leste dalam hal ini Kemendagri, Kemenlu dan Kemenhan untuk segera menyelesaikan patok pal batas 36 ini," sebut dia.

Falen melaporkan ada 15 kepala keluarga yang memprotes pemasangan patok di pal batas 36. Menurut warga 12,6 hektare lahan desa itu masuk wilayah Timor Leste.

"Yang mana wilayah masyarakat di sana seluas 12,6 hektare ini masuk dalam klaim wilayah Timor Leste, sehingga kita maunya ada keputusan dari pusat sehingga kita di bawah ini dapat mengamankan keputusan dari pusat," jelasnya lagi.

Editorial Team