Lombok Barat, IDN Times – Pagi baru saja merekah di Telagawaru, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Matahari masih bersembunyi malu-malu di balik awan tipis, sementara dari sebuah dapur sederhana, aroma manis khas pisang sale mulai merebak memenuhi ruangan. Di sana, seorang perempuan tampak sibuk membungkus camilan kering ke dalam kantong-kantong plastik berlabel rapi, lalu menatanya ke dalam mobil yang siap mengantar produk itu ke toko oleh-oleh dan hotel-hotel berbintang.
Di balik tumpukan keranjang pisang kering, alat pengering sederhana dan stiker kemasan, berdirilah sosok tangguh bernama Nur’aini. Ia bukan hanya pemilik usaha rumahan, tapi juga penggerak di balik nama Manha 99, salah satu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mitra binaan Rumah BUMN BRI Mataram. Produknya telah hadir di rak oleh-oleh ternama, tersaji di meja hotel berbintang, bahkan dikirim rutin ke luar negeri.
Namun, kesuksesan itu bukanlah cerita yang instan. Di balik merek yang kini terdengar profesional, tersembunyi kisah jatuh bangun, tangis dalam diam dan keyakinan yang tak pernah benar-benar padam. Nur’aini menempuh perjalanan panjang dari seorang pedagang pakaian keliling hingga kini menjadi produsen camilan pisang sale yang digemari banyak kalangan.