Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi marah (pexels.com/Yan Krukau)
ilustrasi marah (pexels.com/Yan Krukau)

Bima, IDN Times - Ada anggapan yang sering banget kita denger: kalau orang lagi marah, itulah watak asli mereka. Ini tuh seolah-olah bilang kalau sifat baik yang mereka tunjukkan sebelumnya cuma "topeng."

Padahal, emosi kayak marah itu cuma bagian kecil dari kepribadian seseorang, bukan gambaran penuh siapa mereka sebenarnya. Sayangnya, karena anggapan ini, banyak orang yang pernah meledak marah langsung dicap buruk tanpa ngasih mereka kesempatan untuk dimengerti.

1. Marah bisa jadi hasil dari tekanan situasi

ilustrasi marah (pexels.com/Budgeron Bach)

Manusia itu rumit, guys. Mereka punya banyak sisi yang muncul tergantung situasi. Marah itu bagian dari respon alami, bukan "label" siapa mereka. Misalnya, saat seseorang lagi menghadapi tekanan berat—kayak deadline numpuk atau rekan kerja yang gak kooperatif—emosi seperti marah kadang muncul begitu aja, walau dia biasanya sabar.

2. Emosi marah sering dipengaruhi oleh kelelahan atau stres

ilustrasi marah (pexels.com/Liza Summer)

Kamu pasti pernah ngerasa lebih gampang kesal kalau lagi capek banget, kan? Kalau fisik atau mental lagi down, hal-hal kecil aja bisa bikin kamu naik darah. Ini tuh bukan karena sifatmu yang pemarah, tapi karena tubuh dan pikiranmu lagi kelelahan. Stres yang numpuk juga bisa bikin orang yang biasanya kalem jadi meledak.

3. Kemarahan adalah ekspresi dari ketidakadilan yang dirasakan

ilustrasi marah (pexels.com/Alex Green)

Kadang, marah itu muncul karena rasa gak terima terhadap sesuatu yang gak adil. Contohnya, karyawan yang udah kerja keras tapi gak dihargai sama atasan. Kemarahan itu jadi cara dia memperjuangkan haknya. Jadi, marah di sini bukan berarti dia orang yang emosian, tapi justru bentuk keberanian buat berdiri di atas prinsip.

4. Marah bukanlah sifat yang konsisten

ilustrasi marah (pexels.com/Keira Burton)

Watak asli seseorang lebih kelihatan dari gimana mereka bersikap secara konsisten. Kalau seseorang biasanya dikenal penyayang, sopan, atau pengertian, sekali marah gak cukup buat ngehapus semua hal baik itu. Misalnya, seorang ibu yang biasanya lembut, bisa aja marah saat anaknya bandel banget. Itu bukan karena dia kasar, tapi karena naluri melindunginya lagi muncul.

5. Kemarahan sering kali merupakan cara tubuh melepaskan beban emosi

ilustrasi marah (pexels.com/RDNE Stock project)

Percaya atau enggak, marah kadang jadi cara seseorang buat "melepaskan beban." Misalnya, seorang pelajar yang terus ditekan buat dapat nilai bagus akhirnya meledak karena gak sanggup lagi. Setelah marah, dia bisa merasa lebih lega dan tenang. Jadi, kemarahan ini sebenarnya lebih ke pelepasan emosi, bukan refleksi watak buruk.

Marah itu wajar, bahkan sehat, selama gak berlebihan. Banyak faktor kayak stres, rasa gak adil, atau kondisi fisik yang bikin seseorang jadi marah. Jangan buru-buru ngecap orang cuma dari momen emosional mereka. Coba lihat mereka secara keseluruhan dan pahami alasan di balik kemarahannya. Dengan begitu, kita bisa jadi lebih bijak dalam menilai orang lain dan menjaga hubungan yang lebih sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team