Comscore Tracker

8 Konsep Seni Mencintai untuk Generasi Millenial ala Erich Fromm

Tanpamu aku bisa, denganmu aku sempurna! Eciyeeee!

“Aku itu ingin dicintai, tapi kok setiap pacaran ngak pernah bertahan lama, ujung-ujungnya putus. Kenapa aku sering gagal dalam hubungan? Segitu gak berharganya kah diriku ini?”

Apakah kamu pernah bertanya seperti itu? Pada dasarnya, yang membuat kamu sering gagal dalam urusan cinta itu bukan karena kamu tidak cocok, bukan juga karena kamu tidak berharga, tapi karena kamu belum tahu atau tidak tahu apa-apa tentang cinta.

Kebanyakan orang berpikir bahwa cinta itu hanyalah sensasi nyaman yang tidak perlu banyak belajar. Padahal cinta adalah sebuah seni yang butuh pengetahuan dan upaya. Kamu mungkin berpikir bahwa untuk merasakan cinta, kamu perlu memantaskan diri untuk dicintai, padahal kamu belum tahu bagaimana cara mencintai yang benar.

Erich Fromm, dalam bukunya yang berjudul Seni Mencintai, mengatakan bahwa hampir semua manusia berpikir bahwa cinta itu tentang objek, padahal cinta itu tentang kemampuan.

Kebanyakan orang mengira bahwa cinta itu gampang, jika ketemu sama orang yang dirasa tepat, langsung sikat. Memang, konsep cinta seperti itu akan membuat objek cinta terasa penting, tapi secara tidak sadar, kamu sudah menyepelekan fungsi cinta itu sendiri.

1. Cinta itu permasalahan eksistensi

8 Konsep Seni Mencintai untuk Generasi Millenial ala Erich FrommPinterest

Banyak kaum millenial berkeyakinan bahwa cinta itu adalah fenomena jatuh cinta, bukan berada dalam cinta. Tidak mengherankan, sebagian besar kaum millenial jatuh cinta diawali karena ketertarikan seksual yang mana hal ini bersifat sementara dan tidak abadi.

Sebagai makhluk yang dianugerahi nalar, manusia secara otomatis punya kesadaran dan ketakutan ditinggalkan dan meninggalkan. Manusia sadar akan hal itu, bahwa eksistensinya tidak dapat terpisahkan dengan masyarakat. Saat seorang individu tidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat, maka dia mengalami kecemasan karena merasa terpisah.

Untuk menghilangkan perasaan cemas, seorang membutuhkan persatuan yang didasari ikatan emosional. Fromm, membagi hubungan emosional menjadi dua jenis, yaitu cinta semu dan cinta dewasa.

2. Cinta semu pasif dan aktif

8 Konsep Seni Mencintai untuk Generasi Millenial ala Erich FrommPinterest

Cinta semu ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu cinta semu pasif atau masokisme dan cinta semu aktif atau sadisme.

1. Cinta semu pasif atau masokisme

Orang masokistis mengobati rasa terasing dan terpisahnya dengan cara memposisikan dirinya sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari orang lain, dengan menggantungkan hidupnya pada orang lain. Dia tidak berusaha untuk mengambil keputusan.

2. Cinta semu aktif atau sadisme.

Cinta semu aktif ini kebalikan dari cinta semu pasif, yaitu dominasi. Cara orang sadistik mengobati kesendiriannya adalah dengan cara menjadikan orang lain sebagai bagian dari yang tidak terpisahkan dari dirinya, dengan menguasai hidup orang yang memujanya.

Kedua tipe ini, orang masokistis dan orang sadistik, mereka berdua sama-sama saling ketergantungan. Namun bedanya, orang masokistis dieksploitasi, orang sadistik mengeksploitasi.

3. Cinta dewasa

8 Konsep Seni Mencintai untuk Generasi Millenial ala Erich FrommPinterest

Selanjutnya, kita akan bahas cinta yang akan menjawab permasalahan eksistensi manusia, yaitu cinta dewasa.

Cinta itu paradoks; bersatu tapi tetap dua, mengikat namun sekaligus membebaskan. Cinta adalah kekuatan yang meruntuhkan tembok ego manusia namun tetap membiarkan manusia menjadi dirinya sendiri, tidak ada yang saling ketergantungan.

Fromm membagi cinta dewasa menjadi beberapa unsur, di antaranya; aktivitas, perhatian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan.

Baca Juga: Antigalau, ini 5 Cara Merayakan Patah Hati yang Paling Ampuh

4. Cinta itu aktivitas

8 Konsep Seni Mencintai untuk Generasi Millenial ala Erich FrommPinterest

Bahwasanya cinta itu memberi, bukan menerima. Memberi di sini tidak harus dalam bentuk materi saja. Intinya, dalam memberi, kamu harus ikhlas dan tidak mengharap apapun sebagai gantinya.

Jika cara kamu memberi sudah benar, otomatis orang yang kamu beri akan menjadi pemberi.

5. Cinta itu perhatian

8 Konsep Seni Mencintai untuk Generasi Millenial ala Erich FrommPinterest

Bahwasanya cinta itu adalah kepedulian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan sesuatu yang kamu cintai. Seperti perhatian dalam bentuk mengigatkan, memenuhi kebutuhan dan sebagainya.

Kamu dan pasanganmu bisa saling memerhatikan satu sama lain dengan wajar. Dengan demikian, rasa cinta yang sudah ada tetap terpupuk dan subur, sehingga tak layu dimakan waktu.

6. Cinta itu tanggung jawab

8 Konsep Seni Mencintai untuk Generasi Millenial ala Erich FrommPinterest

Tanggung jawab yang dimaksudkan adalah tindakan kamu secara sukarela atas keberadaan manusia lain, yaitu rasa saling memiliki.

Saat kamu mencintai seseorang, kamu secara ikhlas menganggap dia bagian dari dirimu. Kamu akan memperlakukan dia sebagaimana kamu memperlakukan dirimu sendiri.

7. Cinta itu rasa hormat

8 Konsep Seni Mencintai untuk Generasi Millenial ala Erich FrommPinterest

Hormat disini bukan berarti kamu takut, segan, ataupun kagum. Namun hormat disini lebih kepada kemampuan kamu untuk memandang seseorang sebagai dirinya, dan menyadari kekhasannya sebagai individu.

Tidak ada yang namanya menuntut dia harus sama seperti kamu. Kamu bisa saling menerima dan menghormati satu sama lain.

8. Cinta itu pengetahuan

8 Konsep Seni Mencintai untuk Generasi Millenial ala Erich FrommPinterest

Pengetahuan kamu terhadap dia tidak hanya sekadar tahu tentang nama, tokoh film favorit, buku yang paling disuka, dan hal-hal klasik lainnya. Tapi pengetahuan di sini lebih kepada pengenalan sifatnya, kepribadiannya, jiwanya, hasrat terpendamnya, kebiasaannya dan hal-hal lain yang lebih mendalam.

Konsep teori mencintai dari Erich Fromm ini tidak hanya berlaku untuk pasangan saja, tapi berlaku juga untuk cinta pada anak, cinta pada orang tua, cinta pada saudara dan cinta pada sahabat.

Nah, dalam hubunganmu, kamu pernah melakukan yang mana? Atau kamu sudah melakukan semuanya?

Baca Juga: 13 Etika Dasar dalam Kehidupan Manusia di Muka Bumi, Kamu Wajib Tahu!

Hirpan Rosidi Photo Community Writer Hirpan Rosidi

Hirpan Rosidi, laki-laki kelahiran 1997 yang tidak pandai mendeskripsikan dirinya. Karena kemampuan menulisnya dibawah rata-rata, dia memiliki cita-cita yang dimana dia sendiri tidak terlalu berharap cita-citanya bisa terwujud; yaitu disalah satu rak toko buku, di antara buku-buku dari penulis besar itu, terselip satu judul buku dengan nama Hirpan Rosidi sebagai penulisnya. Berbekal lulusan Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan kecintaannya pada literasi, menjadikannya ingin membangun perpustakaan untuk anak-anak dan warga di kampungnya.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Linggauni

Berita Terkini Lainnya