Istilah self-love atau mencintai diri sendiri semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental. Kampanye-kampanye tentang pentingnya menghargai diri sendiri, menetapkan batasan sehat, dan memperjuangkan kesejahteraan pribadi telah menjadi bagian dari percakapan publik, terutama di media sosial.
Namun, meskipun memiliki niat yang baik, konsep self-love sering kali disalahpahami dan disalahgunakan dalam praktiknya. Alih-alih menjadi bentuk perawatan diri yang sehat dan penuh kasih, self-love kadang berubah menjadi dalih untuk menghindari tanggung jawab, menolak kritik konstruktif, bahkan menjadi bentuk egoisme terselubung.
Artikel ini mengupas 5 alasan utama mengapa konsep self-love sering disalahpahami, dan bagaimana cara melihatnya dengan lebih jernih dan seimbang.