Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

5 Tips Menyembunyikan Kehidupan Digital dari Orang yang Kepo

 (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi media sosial yang digunakan anak muda. (IDN Times/Aditya Pratama)

Di era digital saat ini, menjaga privasi bukan hanya soal menyembunyikan hal-hal besar, tetapi juga tentang menghindari komentar, asumsi, dan rasa ingin tahu berlebihan dari orang-orang yang terlalu kepo. Bukan berarti kita punya sesuatu untuk disembunyikan, hanya saja, tidak semua hal perlu dibagikan atau dikomentari.

Sayangnya, media sosial dan kebiasaan online kita sering kali menjadi ladang pengamatan yang terbuka, bahkan untuk orang-orang yang seharusnya tidak tahu terlalu banyak. Jika kamu merasa kehidupan digitalmu sudah terlalu transparan dan ingin mengambil sedikit jarak tanpa terlihat misterius atau mencurigakan, kamu tidak sendirian.

Berikut 5 tips sederhana namun ampuh untuk menyembunyikan kehidupan digitalmu dari mereka yang suka terlalu ikut campur, tanpa harus sepenuhnya menghilang dari dunia maya.

1. Gunakan fitur “close friends” atau custom audience

ilustrasi menjadi admin media sosial (unsplash.com/sumup)
ilustrasi menjadi admin media sosial (unsplash.com/sumup)

Media sosial seperti Instagram dan Facebook punya fitur untuk membatasi siapa yang bisa melihat postinganmu. Gunakan fitur seperti “close friends” atau atur audiens secara manual untuk setiap unggahan. Dengan cara ini, kamu bisa tetap aktif tanpa harus berbagi semuanya ke semua orang.

Ini adalah solusi elegan bagi kamu yang ingin tetap bersosial tanpa membuka pintu terlalu lebar. Bahkan jika kamu masih ingin memposting tentang hidupmu, kamu bisa memilih siapa yang berhak melihatnya. Ini bukan berarti kamu berpura-pura, tapi kamu sedang mengambil kendali atas narasi hidupmu sendiri.

2. Nonaktifkan status online dan tanda “sedang mengetik”

Ilustrasi promosi di media sosial (www.pexels.com/Plann)
Ilustrasi promosi di media sosial (www.pexels.com/Plann)

Tanda online dan status sedang mengetik bisa memberi celah bagi orang lain untuk memantau kapan kamu aktif. Di WhatsApp, Telegram, atau Instagram, kamu bisa menonaktifkan fitur-fitur ini agar tidak selalu terlihat tersedia atau memicu percakapan yang tidak kamu inginkan.

Dengan menonaktifkan status, kamu bisa lebih leluasa mengatur ritme komunikasi tanpa merasa harus selalu responsif. Ini akan memberikan kamu ruang untuk rehat tanpa merasa bersalah, sekaligus menjaga jarak dari orang-orang yang terlalu memperhatikan gerak-gerik digitalmu.

3. Pisahkan akun pribadi dan akun sosial publik

Ilustrasi 5 alasan kenapa ngobrol langsung lebih bikin bahagia dari media sosial (pexels.com/KATRIN  BOLOVTSOVA)
Ilustrasi 5 alasan kenapa ngobrol langsung lebih bikin bahagia dari media sosial (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Jika kamu aktif secara online untuk pekerjaan, komunitas, atau konten, ada baiknya memisahkan akun pribadi dan akun publik. Dengan begitu, kamu bisa menjaga satu ruang tetap steril dari intervensi atau pengamatan yang tak perlu.

Akun pribadi bisa kamu kunci, jaga ketat, dan hanya izinkan orang-orang terdekat untuk mengakses. Sementara akun publik bisa menjadi wadah ekspresi yang tetap terkontrol tanpa harus membuka terlalu banyak tentang kehidupanmu yang sesungguhnya. Ini memberi kamu kebebasan untuk berbagi tanpa merasa diawasi.

4. Hindari geotagging dan posting real-time

Ilustrasi memakai media sosial lewat smartphone (Pexels/Andrea Piacquadio)
Ilustrasi memakai media sosial lewat smartphone (Pexels/Andrea Piacquadio)

Salah satu cara orang bisa membaca kehidupan digitalmu adalah dari lokasi yang kamu bagikan. Hindari mem-posting lokasi secara real-time atau mengunggah aktivitasmu saat itu juga. Simpan dan unggah setelah kamu berpindah tempat, atau tidak perlu ditandai sama sekali.

Dengan menghindari posting real-time, kamu menciptakan delay yang sehat antara hidup nyata dan apa yang kamu tampilkan ke publik. Ini akan membuat orang lebih sulit untuk melacak keberadaanmu atau membuat asumsi tentang keseharianmu berdasarkan waktu unggahan.

5. Jangan terlalu banyak cerita di kolom chat

illustrasi melihat media sosial (pexels.com/Mikhail Nilov)
illustrasi melihat media sosial (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kadang kita sendiri yang tanpa sadar memberi akses terlalu banyak melalui percakapan sehari-hari. Meski orang terdekat atau teman, jika kamu merasa obrolan mereka terlalu menyelidik, mulailah memberi batas. Jawab secukupnya dan alihkan topik jika perlu.

Menjaga privasi juga berarti tidak merasa harus selalu menjawab semua pertanyaan. Kamu punya hak untuk menyimpan hal-hal tertentu untuk dirimu sendiri. Komunikasi yang sehat tidak selalu berarti berbagi segalanya. Bijak dalam memilih cerita adalah bentuk sayang pada diri sendiri.

Itulah 5 tips sederhana namun ampuh untuk menyembunyikan kehidupan digitalmu dari mereka yang suka terlalu ikut campur, tanpa harus sepenuhnya menghilang dari dunia maya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us