5 Tanda Kamu Ternyata Kurang Mempraktikkan Self-Compassion

Efek positif dari menerapkan rasa kasih sayang atau self-compassion pada diri sendiri telah terbukti oleh banyak penelitian. Rasa kasih sayang terhadap diri sendiri dapat menumbuhkan perasaan lebih memahami diri sendiri, meningkatkan pengambilan perspektif, mengurangi perenungan, meningkatkan fleksibilitas kognitif, meningkatkan motivasi dan pengaturan diri, serta membangun ketahanan.
Di lain sisi, meskipun penting, kamu bisa saja tanpa sadar menolak menerapkan self-compassion ini. Kamu mungkin terlalu sibuk melihat kelebihan orang lain, membandingkan diri dengan apa yang orang lain capai, hingga terlalu keras pada diri sendiri dan sangat berhati-hati.
Pada akhirnya, tanpa sadar kamu lupa melakukan self-compassion. Alih-alih menunjukkan rasa kasih sayang terhadap diri sendiri, jangan sampai justru lebih banyak mengkritisi diri sendiri. Jadi, sekarang mari lihat apakah diam-diam kamu tidak mempraktikan self-compassion? Agar manfaat ilmiah dari sikap ini bisa lebih optimal dirimu rasakan!
1. Kamu percaya jika self-criticism sama dengan self-awareness

Kamu mungkin berpikir jika bersikap keras terhadap diri sendiri merupakan sikap yang jujur. Kamu mungkin menganggap merangkul dan memahami kekuranganmu itu sangat penting. Dalam posisi ini saat kondisinya berlebihan, kamu berpikir jika kamu tidak mengkritik diri sendiri sendiri, ada kekhawatiran kamu tidak bisa menyadari kelemahanmu. Padahal, mengasihi diri sendiri bukan berarti kamu mengabaikan kekurangan atau kesalahan yang kamu lakukan.
Saat kamu menyadari diri punya kesalahan, tetapi kamu juga mempraktikkan self-compassion, maka kamu tidak akan berlebihan dalam menghukum diri. Jadi, jangan menyalahartikan mengkritisi diri sebagai tindakan yang harus dilakukan sebagai upaya untuk tidak lupa terhadap kelemahan diri.
Punya kelemahan, kesalahan, itu wajar bagi setiap orang, tetapi bukan berarti kamu harus merasa bersalah karenanya. Apa yang perlu dikasihi di dalam dirimu bukan hanya kelebihan, tetapi juga kekurangan yang kamu miliki.
2. Kamu khawatir kasih sayang terhadap diri sendiri akan merusak kinerja

Terlepas dari bukti hasil penelitian yang menyebutkan sebaliknya, masih banyak orang percaya bahwa penerapan self-compassion dapat berpengaruh pada kinerja diri sendiri. Kamu mungkin takut jika gara-gara self-compassion, justru akan menghilangkan keunggulan dan keberanian.
Jika kamu merasa bahwa bersikap baik terhadap diri sendiri bisa sebabkan kelemahan, standar yang lebih rendah, atau persepsi negatif dari orang lain, kamu tidak sendirian.
Sekarang, lebih baik kamu percaya terhadap hasil penelitian terkait efek penerapan self-compassion ini dahulu saja. Sebenarnya, self-compassion justru akan meningkatkan tingkat kinerja diri kamu. Standar tinggi dan rasa kasih saya pada diri sendiri dapat hidup berdampingan.
Sikap self-compassion ini membantu kamu merasa terlibat saat mengejar tujuan yang tinggi, tanpa kelelahan atau mengalami stres negatif yang berlebihan.
3. Kamu merasa nasihat tentang mengasihi diri sendiri tidak berlaku untukmu

Penelitian menunjukkan, bahwa ungkapan kasih sayang yang diberikan oleh lain, baik itu orang tua, saudara, maupun sahabat, dapat lebih membantu individu agar mencintai diri mereka sendiri. Tetapi, saat kamu kurang menerapkan self-compassion, kamu mungkin sering kali menemukan alasan mengapa nasihat untuk mengasihi diri itu tidak berarti untukmu. Secara tidak sadar, sikap ini dapat membuat kamu tidak mendapatkan pendukung atau panutan yang sebenarnya memang peduli terhadapmu.
Contohnya, saat pelatih kamu mengatakan untuk meluangkan waktu beristirahat penuh di hari minggu, tetapi kamu tidak menurutinya. Kamu mungkin berpikir pendekatan penuh kasih sayang baik untuk orang lain, tetapi tidak untukmu. Kondisi ini menandakan jika kamu masih kurang menerapkan self-compassion yang sebenarnya sangat dibutuhkan olehmu. Bentuk abai terhadap pentingnya self-compassion ini memang bisa sama sekali tidak kamu sadari.
4. Kamu berharap diri kamu dapat memprediksi semua perspektif

Penelitian lain menunjukkan, penerapan self-compassion dapat mengurangi renungan saat menerima umpan balik negatif atau gagal di depan orang lain. Biasanya, karena self-compassion dapat membuat seseorang menjadi lebih fleksibel secara kognitif, lebih terbuka terhadap pengalaman emosional mereka, dan juga tidak terlalu terbenani oleh emosional diri.
Namun, jika kamu terlalu keras terhadap diri sendiri, kamu mungkin merasa tidak layak menerima self-compassion saat berada dalam situasi negatif. Kamu mungkin berharap bisa memprediksi dengan sempurna bagaimana seseorang merasa, berpikir, dan berperilaku.
Jadi, menurutmu tidak seharusnya merasa terkejut atas reaksi orang lain yang tidak sesuai dengan ekspektasi positifmu. Kamu bisa jadi terjebak dalam pikiran untuk selalu menjaga agar orang lain tidak bereaksi negatif terhadapmu. Meskipun, cara untuk mempertahankan ini dilakukan dengan melupakan self-compassion.
5. Kamu merasa tidak berhak belajar dari kesalahan

Kamu mungkin percaya jika kesalahan merupakan pembelajaran alami dan tak terelakan yang orang lain harus lewati. Tetapi, kamu sendiri merasa tidak berhak belajar dari kesalahan itu. Kamu melihat ketika orang lain mengalami sebuah kesulitan artinya orang itu sedang berproses.
Namun, saat kamu sendiri yang melakukan kesalahan, kamu merasa seharusnya sudah memperikirakan atau mencegahnya sama sekali. Jadi, kamu sendiri tidak memberi dirimu kemewahan untuk belajar dari kesalahan.
Pola pikir ini justru bisa membuat kamu terjebak dalam pemikiran analysis paralysis, jadi kamu merasa perlu membuat pendekatan sempurna sebelum melakukan apa pun. Jika kamu menerapkan self-compassion, kamu akan melihat kesalahan sebagai sebuah data bukan kegagalan. Jadi, kamu bisa menggunakan kesalahan ini sebagai cara untuk menyesuaikan diri dan terus bertumbuh alih-alih terjebak dalam penyesalan diri.
Dengan mengenali kapan dan mengapa kamu menolak menerapkan self-compassion, kamu bisa lebih tahu perawatan diri yang tepat. Salah satunya bisa dilakukan dengan rutin menulis jurnal sederhana, guna menumbuhkan ketahanan sederhana, kejelasan, serta pertumbuhan yang lebih baik di dalam hidup kamu.
Mengalihkan kebiasaan overthinking terhadap aktivitas lain yang bisa dilakukan, merupakan cara efektif untuk dicoba. Misalnya, dengan berpikir lebih strategis seperti matematikawan ini!