Ponpes Al Aziziyah Harap Kasus Meninggalnya Santriwati Cepat Terungkap

Pihak ponpes sebut tak ada tradisi bullying dan kekerasan

Mataram, IDN Times - Pihak Ponpes Al Aziziyah Gunungsari Lombok Barat melalui Penasihat Hukumnya berharap kasus meninggalnya santriwati atas nama Nurul Izati (13) asal Ende, Nusa Tenggara Timur (NTB) cepat terungkap.

Penasihat Hukum Ponpes Al Aziziyah Herman Soerenggana mengatakan pihaknya sangat terbuka terkait dengan proses hukum yang sedang berjalan.

Ia mengaku bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dan bekerja sama dengan beberapa pihak. Di antaranya Lembaga Perindungan Anak Mataram dan Pekerja Sosial dari Sentra Paramita dalam proses pendampingan terhadap santri yang menjadi saksi dan diambil keterangannya oleh Penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Mataram.

"Kami berharap agar kasus ini cepat terungkap dan terselesaikan terkait dengan akibat meninggalnya almarhumah santriwati kami," kata Soerenggana di Mataram, Selasa (9/7/2024).

1. Saksi anak didampingi LPA Kota Mataram

Ponpes Al Aziziyah Harap Kasus Meninggalnya Santriwati Cepat TerungkapPemeriksaan saksi dari Ponpes Al Aziziyah terkait kasus kematian santriwati Nurul Izati (13) asal NTT. (dok. Istimewa)

Pihak Ponpes Al Aziziyah bersepakat dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram terkait dengan pendampingan santri di bawah umur atau saksi anak mendapatkan pendampingan dari LPA Kota Mataram.

Ia mengatakan pihak pondok juga membuka diri kepada pihak-pihak yang mau terlibat dalam penyelesaian persoalan tersebut di Ponpes Al Aziziah.

Terkait dugaan tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan meninggalnya santriwati atas nama Nurul Izati, kata Soerenggana, dapat dibenarkan jika telah ada proses pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang telah diambil keteranganya oleh penyidik PPA Polresta Mataram. Saksi-saksi telah diperiksa pada Rabu (3/7/2024), Senin (8/7/2024) dan Selasa (9/7/2024).

"Bahwa terkait dengan proses pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Penyidik PPA Polresta Mataram, kami atas nama tim hukum Pondok Pesantren Al Aziziyah, mengapresiasi langkah penyidik untuk membuka seterang-terangnya akibat meninggalnya santri kami atas nama Nurul Izati," ucap Soerenggana.

Baca Juga: Kloter Terakhir Dipulangkan, 5 Jemaah Haji NTB Masih Dirawat di Makkah

2. Sebut tidak ada tradisi bullying dan kekerasan

Ponpes Al Aziziyah Harap Kasus Meninggalnya Santriwati Cepat TerungkapPonpes Al Aziziyah Gunungsari Lombok Barat. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Terkait hasil pemeriksaan, Soerenggana mengatakan pihaknya tidak bisa menyampaikan secara utuh karena hal ini menjadi kewenangan penyidik Unit PPA Satreskrim Polresta Mataram. Menurutnya, penyidik yang yang berwenang memberikan keterangan lebih lanjut terkait dengan hasil pemeriksaan.

Ia juga menyampaikan bahwa tidak pernah ada tradisi antarsantri melakukan tindakan bullying dan kekerasan. Karena masing-masing kelas santri asrama ada wali hujroh (wali kamar) dan kakak wali kamar yang turun melakukan kontrol terhadap santri dan santriwati yang mondok di asrama

"Kami juga telah berkomitmen untuk membangun kerjasama dengan berbagai pihak termasuk LPA Mataram untuk terus mendorong dan membangun pondok kami yang berbasis ramah terhadap anak didik. Dan edukasi ini penting diberikan sejak adik-adik santri masuk ke pondok kami," tandasnya.

3. Tim penasihat hukum korban sebut ada indikasi kekerasan

Ponpes Al Aziziyah Harap Kasus Meninggalnya Santriwati Cepat TerungkapSatreskrim Polresta Mataram melakukan olah TKP di Ponpes Al Aziziyah Gunungsari Lombok Barat terkait kasus dugaan penganiayaan santriwati asal Ende NTT Nurul Izati (13). (dok. Istimewa)

Sementara, Pansihat Hukum Keluarga Santriwati Ponpes Al Aziziyah Nurul Izati (13), Yan Mangandar Putra menegaskan kuat dugaan korban mengalami kekerasan di lingkungan pondok pesantren.

Yan mengatakan hal itu berdasarkan keterangan dokter RSUD dr. Soedjono Selong Lombok Timur, Rabu, 26 Juni 2024, bahwa ada benturan benda tumpul di kepala bagian kiri korban.

Hal ini mengindikasikan kuat bahwa terjadi kekerasan terhadap korban yang kesehariannya hidup di asrama dan sekolah di Ponpes Al Aziziyah. Sehingga, kata Yan, proses hukum kasus ini naik dari penyelidikan ke penyidikan.

Ini sekaligus membantah keterangan awal pengurus Ponpes yang mengatakan bahwa apa yang dialami Nurul Izati bukan karena kekerasan tetapi karena mencongkel jerawat di hidungnya menggunakan jarum pentul.

Pihaknya meminta jangan sampai ada pihak tertentu mengarahkan kasus kekerasan ini terjadi luar Ponpes. "Apalagi menuduh jarum pentul sebagai pelaku kekerasannya, rusak logika kita dibuat hanya demi menjaga nama baik lembaga tertentu," kata Yan.

Baca Juga: 165.917 Wajib Pajak di NTB Belum Padankan NIK-NPWP, Bakal Kena Sanksi?

Topik:

  • Linggauni

Berita Terkini Lainnya