Comscore Tracker

Uniknya Budaya Merarik Suku Sasak Lombok, Calon Pengantin Dibawa Lari 

Merarik atau menikah dalam adat Sasak punya banyak tahapan

Mataram, IDN Times - Membawa kabur perempuan untuk dinikahi merupakan bagian dari tradisi Merarik atau menikah, yang berlaku dalam masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun di Lombok. Bila ada perempuan yang dibawa kabur oleh kekasihnya, maka ini menjadi pertanda keluarga perempuan harus bersiap-siap menerima pinangan. 

Bagi masyarakat di luar Pulau Lombok, tradisi ini tentu terbilang unik. Pasalnya, melarikan  atau membawa kabur perempuan untuk kemudian dinikahi bisa saja kena hukum pidana. Namun di Lombok, membawa kabur perempuan untuk dinikahi menjadi tradisi yang harus dilalui jika hendak menikah.

Baca Juga: Poligami di Tengah Pandemik, Pernikahan ini Viral di Lombok

1. Melarikan perempuan yang hendak dinikahi biasanya dilakukan pada malam hari

Uniknya Budaya Merarik Suku Sasak Lombok, Calon Pengantin Dibawa Lari Merarik atau larikan mempelai wanita biasanya dilakukan pada malam hari/Facebook

Konon, tradisi membawa lari perempuan untuk dinikahi di masyarakat Suku Sasak karena ada anggapan, pria Sasak baru disebut "gentleman" bila mampu membawa kabur perempuan yang ingin ia nikahi. Tentunya perempuan yang ingin dinikahi harus di atas usia batas pernikahan dan kabur atas persetujuan perempuan tersebut. 

Biasanya melarikan anak gadis yang akan dinikahi dilakukan pada malam hari. Bagi sebagian kaum adam di Pulau Lombok, hal ini dilakukan untuk menyembunyikan calon mempelai wanita dari luar kampungnya.

2. Keluarga mempelai pria mendatangi keluarga perempuan melakukan Sejati-Selabar

Uniknya Budaya Merarik Suku Sasak Lombok, Calon Pengantin Dibawa Lari Sejati Selabar pada adat Merarik/Instagram

Umumnya calon pengantin perempuan yang dibawa kabur di tempatkan di rumah keluarga sang lelaki selama satu sampai 3 hari. Selanjutnya, keluarga calon pengantin laki-laki mengutus seseorang, umumnya tokoh adat atau kepala dusun atau orang ternama di keluarga laki-laki tersebut untuk menyampaikan kepada kepala dusun atau keluarga perempuan mengenai pelarian itu dan rencana pernikahan. Proses ini disebut Sejati.

Bila keluarga perempuan setuju, selanjutnya keluarga perempuan dan laki-laki membahas mengenai uang yang harus dibayar pihak laki-laki kepada orang tua perempuan yang disebut dengan uang Pisuke. Proses ini disebut Selabar.

Proses Sejati-Selabar dilakukan dalam tempo secepatnya. Bisa tiga hari hingga satu atau dua pekan. Terkadang, negosiasi uang Pisuke memperlambat proses selanjutnya, jika kedua belah pihak lama mencapai kata sepakat.

3. Nutut Wali usai setuju uang Pisuke dan maskawin yang harus dibayar calon mempelai pria

Uniknya Budaya Merarik Suku Sasak Lombok, Calon Pengantin Dibawa Lari Resepsi pernikahan di Lombok IDN Times/Ahmad Viqi Wahyu Rizki

Setelah keluarga laki-laki dan perempuan mencapai kata sepakat mengenai uang Pisuke yang harus dibayar pihak laki-laki kepada orang tua si perempuan, dan juga maskawin yang harus dibayar laki-laki untuk calon istrinya, proses selanjutnya adalah Nutut Wali atau jemput wali hakim dari calon mempelai perempuan. 

Nutut Wali biasanya dilakukan pada hari H pernikahan. Dalam Nutut Wali juga, pihak keluarga perempuan tidak bisa menentukan hari apa pernikahan akan digelar. Semua itu bakal ditentukan oleh mempelai pria. Cukup unik bukan?

4. Sorong Serah Ajikrama

Uniknya Budaya Merarik Suku Sasak Lombok, Calon Pengantin Dibawa Lari Sorong Serah Ajikrama dilakukan sebelum acara Nyongkolan/Instagram

Proses selanjutnya adalah Sorong Serah Ajikrama. Proses ini dilakukan dikediaman mempelai perempuan.  

Sorong artinya menyodorkan dan Serah artinya menyerahkan. Jadi, Sorong Serah artinya serah terima. Sedangkan Aji artinya nilai atau harga dan Krama artinya aturan, ketetapan atau kebiasaan.

Oleh karena itu, Sorong Serah Ajikrama artinya serah terima suatu harga atau nilai yang sudah ditetapkan. 

Dengan kata lain, Sorong Serah Ajikrama berarti serah terima (pembayaran berupa uang oleh pihak mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan dalam suatu proses pernikahan) yang mana nominal uang yang dikeluarkan sesuai dengan yang sudah ditetapkan oleh masyarkat setempat.

Sorong Serah Ajikrama dilakukan sebelum pernikahan digelar. Setelah pernikahan berlangsung selanjutnya dilakukan acara Nyongkolan atau mengiring pengantin laki-laki dan perempuan menuju kediaman pengantin perempuan.

Baca Juga: Calon Penumpang di Bandara Lombok Dapat Vaksin COVID-19 Gratis

5. Begawe dan Nyongkolan

Uniknya Budaya Merarik Suku Sasak Lombok, Calon Pengantin Dibawa Lari Adat Nyongkolan pada Suku Sasak IDN Times/Ahmad Viqi Wahyu Rizki

Usai Sorong Serah Ajikrama, selanjutnya dilangsungkan akad nikah dan resepsi. Resepsi ini disebut Begawe, yang diselenggarakan oleh pihak laki-laki. Begawe berarti makan bersama dengan warga sekitar. Begawe digelar sebagai rasa syukur pihak keluarga pengantin pria.

Proses selanjutnya adalah Nyongkolan, yakni kedua pengantin bersama keluarga dan warga di sekitar tempat tinggal pengantin laki-laki mendatangi keluarga pengantin perempuan. Nyongkolan dilakukan pada siang atau sore hari, tergantung jarak yang akan ditempuh menuju rumah mempelai perempuan.

Nyongkolan umumnya berlangsung semarak. Kedua pengantin menggunakan baju pengantin adat Sasak, begitu juga pengiring mereka yang terdiri dari gadis-gadis (dedare) dan perjaka-perjaka (terune) dan juga keluarga dan warga yang ikut, menggunakan baju adat seperti Baju Lambung atau kebaya dan kain tenun atau songket Sasak.

Saat Nyongkolan, rombongan pengantin diiringi musik gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau Gendang Beleq untuk memeriahkan acara.

Umumnya Nyongkolan dilakukan dengan berjalan kaki, tapi bila jarak rumah pengantin perempuan jauh, rombongan menggunakan kendaraan dan mulai berjalan kaki dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita.

Nyongkolan bertujuan untuk memperkenalkan pasangan pengantin ke masyarakat, terutama di lingkungan tempat tinggal mempelai wanita. Dalam Nyongkolan ini, biasanya iring-iringan pengantin membawa beberapa benda seperti hasil kebun, sayuran maupun buah-buahan yang akan bagikan pada kerabat dan tetangga mempelai wanita.

6. Bejango

Uniknya Budaya Merarik Suku Sasak Lombok, Calon Pengantin Dibawa Lari Acara Bejango pada budaya Merarik di Suku Sasak/Instagram

Usai Nyongkolan, esok harinya pengantin dan keluarga mempelai laki-laki Bejango atau bertamu ke rumah keluarga pengantin perempuan. Bejango sekaligus menjadi penutup dari rangkaian acara Merarik atau pernikahan dalam adat masyarakat Suku Sasak. Dalam Bejangon ini juga ada acara mbales ones nae, yaitu acara silaturahmi antar keluarga pengantin. 

Tahapan ini menjadi momentum penting atas terjalinnya hubungan kekerabatan yang baru antar dua keluarga. Dalam mbales ones nae saat Bejango juga dianjurkan untuk saling memaafkan apabila ada hal-hal yang mungkin menyinggung satu sama lain selama prosesi acara. Cukup menarik bukan?

Topic:

  • Yogie Fadila
  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya